Tugas ke-3 Softskill Sistem Informasi Psikologi “mencari skripsi/tesis/disertasi yang berhubungan antara bidang TI dan Psikologi”

Dalam rangka untuk memenuhi tugas softskill mata kuliah sistem informasi psikologi yaitu mencari skripsi/tesis/disertasi yang berhubungan antara bidang TI dengan psikologi. saya menemukan judul skripsi ini dengan judul “SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PEMILIHAN JURUSAN DI PERGURUAN TINGGI” dengan nama penulisnya adalah ALFI DWI SUKMAWAN.

a. Abstrak penulis yaitu Di Indonesia banyak siswa SMU yang memiliki keinginan cukup besar untuk terus melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi. Hal yang patut disayangkan dari animo yang besar untuk masuk perguruan tinggi, adalah kurang matangnya mereka memilih jurusan atau program studi yang ada di perguruan tinggi. Akibatnya, sering terdengar cukup banyak mahasiswa baru yang gagal di tengah jalan atau drop out ketika mereka sudah diterima di perguruan tinggi.

Tujuan yang ingin dicapai pada skripsi ini yaitu agar siswa tidak salah pilih dalam menentukan jurusan di perguruan tinggi, pemilihan jurusan didasarkan pada bakat yang dimiliki tiap tester yang diinformasikan melalui jawaban tes – tes yang telah disyaratkan.

Bakat dalam pandangan Islam adalah kemampuan manusia yang telah dimiliki sejak dilahirkan, yang menjadikan manusia makhluk unggulan dikaruniai akal kreatif sehingga memungkinkannya untuk mengembangkan peradaban dan kebudayaannya. Tes – tes dalam skripsi ini menggunakan tes DAT (Differential Aptitude Test) yaitu tes yang dikembangkan pada tahun 1947 dengan memadukan prosedur ilmiah dan prosedur pembakuan yang baik untuk mengungkap kemampuan (ability ) pria dan wanita pada para siswa kelas tiga SMP sampai dengan siswa kelas tiga SMU untuk tujuan bimbingan kependidikan dan bimbingan karir. Tes DAT terdiri dari 8 subtes : Tes Verbal, Tes Numerik, Tes Abstrak, Tes Kecepatan dan Ketelitan, Tes Mekanikal, Tes Visual, Tes Mengeja dan Tes Kosakata.

Hasil pengukuran bakat ini bukanlah secara tepat memberikan suatu keputusan yang pasti dalam memecahkan masalah – masalah yang dihadapi siswa dalam studi dan karir, tetapi skor – skor bakat ini hanyalah merupakan suatu informasi pelengkap yang dapat dipercaya guna membantu para siswa untuk menjawab pertanyaan dalam lapangan pendidikan.

Kata Kunci : Sistem Pendukung Keputusan, Perguruan Tinggi, DAT.

b. Tujuan dari penulisan ini, menurut penulis adalah agar siswa tidak salah pilih dalam menentukan jurusan di perguruan tinggi, pemilihan jurusan didasarkan pada bakat yang dimiliki tiap tester yang diinformasikan melalui jawaban tes – tes yang telah disyaratkan.

c. Dalam penulisan ini, penulis menggunakan software Rational Rose. Rational Rose merupakan salah satu software yang paling banyak digunakan untuk melakukan design software melalui pendekatan UML (Unified Modelling Language). Rational Rose merupakan software yang menyediakan banyak fungsi – fungsi seperti : design proses, generate code, reverse engineering, serta banyak fungsi-fungsi yang lain. Rational Rose merupakan tool yang sangat mudah karena sudah menyediakan contoh-contoh design dari beberapa software. Rational Unified Proses (RUP ) merupakan pilihan yang tepat untuk membuat suatu design yang lengkap dengan cara mudah karena model ini merupakan template,sehingga kita dapat langsung melakukan perubahan dengan mengganti use case,actors,class diagram yang telah ada pada template RUP. Pada Rasional Rose ada beberapa diagram diantranya: Use Case Diagram, Activity Diagram, Sequence Diagram, Class Diagram, Statechart Diagram, Collaboration Diagram. Tapi yang sering di gunakan Use Case Diagram, Activity Diagram, Sequence Diagram dan Class Diagram.

Serta menggunakan Entity Relationship Diagram (ERDiagram) adalah sebuah digram yang menggambarkan hubungan atau relasi antar entitas (Entity), setiap entity terdiri atas satu atau lebih attribut yang merepresentasikan seluruh kondisi atau fakta dari dunia nyata yang ditinjau. Dengan ER-Diagram untuk mentransformasikan keadaan dari dunia nyata ke dalam bentuk basis data. Untuk lebih jelasnya silahkan lihat disini (http://lib.uin-malang.ac.id/files/thesis/fullchapter/04550017.pdf).

d. Kesimpulan penulis adalah Setelah melakukan analisa, merancang dan mengimplementasikan. Sistem Pendukung Keputusan Pemilihan Jurusan Perguruan Tinggi, diperoleh kesimpulan sebagai berikut: Program ini beguna untuk para siswa yang masih kebingungan dalam menentukan memilih jurusan di perguruan tinggi.Program ini mempermudah dalam proses pemeriksaan jawaban, karena soal – soal langsung dikerjakan secara online. Untuk jangka panjang program ini juga dilengkapi dengan link penambahan aturan, sehingga apabila ada penambahan aturan atau penggantian aturan program ini bisa langsung terupdate. Selain itu untuk 8 soal subtes juga diupdate, sehingga kebocoran soal dapat sedikit teratasi.

e. Daftar pustaka: http://lib.uin-malang.ac.id/files/thesis/fullchapter/04550017.pdf

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

SISTEM INFORMASI BERBASIS KOMPUTER (SISTEM PAKAR DAN SISTEM PENGAMBILAN KEPUTUSAN) DAN ARTIFICIAL INTELEGENCE (AI)

SISTEM INFORMASI BERBASIS KOMPUTER (SISTEM PAKAR DAN SISTEM PENGAMBILAN KEPUTUSAN) DAN ARTIFICIAL INTELEGENCE (AI)

Sebelum membahas sistem informasi berbasis komputer ada baiknya kita harus mengetahui apa itu sistem informasi. Sebenarnya sistem informasi pada komputer dan sistem informasi pada manusia itu hamir sama namun yang membedakan itu hanya dalam tahap penyimpanan dan tahap pemanggilan kembali datanya. Sistem pemrosesan informasi manusia, aliran proses informasi manusia dimulai dari ditangkapnya stimulus atau rangsangan dari lingkungan sekitar oleh indera kita (mata, kulit, dll) yang kemudian dikirim ke otak. Di dalam otak semua stimulus ini diproses yang kemudian menghasilkan berbagai keluaran seperti membuat keputusan.

Menurut Turban, McLean, dan Wetherbe (dalam khairunissa, 2012) Sistem informasi adalah sebuah sistem informasi yang mempunyai fungsi mengumpulkan, memproses, menyimpan, menganalisis, dan menyebarkan informasi untuk tujuan yang spesifik.

Sistem informasi adalah kumpulan perangkat keras dan lunak yang dirancang untuk mentransformasikan data ke dalam bentuk informasi yang berguna (Bodnar dan HopWood, dalam khairunissa, 2012) sedangkan Menurut Alter (dalam khairunissa, 2012) Sistem informasi adalah kombinasi antara prosedur kerja, informasi, orang, dan teknologi informasi yang diorganisasikan untuk mencapai tujuan dalam sebuah perusahaan.

Sistem Informasi Berbasis Komputer atau Computer Based Information System (CBIS) merupakan sistem pengolahan suatu data menjadi sebuah informasi yang berkualitas dan dapat dipergunakan sebagai alat bantu yang mendukung pengambilan keputusan, koordinasi dan kendali serta visualisasi dan analisis. Dalam CBIS biasanya berkaitan dengan data, informasi, sistem, sistem informasi dan basis komputer.

A.    SISTEM PAKAR

Menurut Martin dan Oxman (dalam Togatorop,2012) Sistem pakar merupakan sebuah sistem berbasis komputer yang menggunakan pengetahuan, fakta dan teknik penalaran yang dimiliki manusia sebagai pakar yang tersimpan di dalam komputer, dan digunakan untuk menyelesaikan masalah yang lazimnya memerlukan pakar tertentu.  Sedangkan menurut pengertian lainnya, Sistem pakar (expert system) adalah sistem yang berusaha mengapdosi pengetahuan manusia ke komputer, agar komputer dapat menyelesaikan masalah seperti yang biasa dilakukan oleh para ahli. Sistem pakar yang baik dirancang agar dapat menyelesaikan suatu permasalahan tertentu dengan meniru kerja dari para ahli. Untuk lebih lanjutnya bisa dilihat disini (http://nurulaisyah2.wordpress.com/2012/10/13/sistem-pakar/).

Jadi sistem pakar adalah sistem yang ditranfer dari seorang ahli melalui komputer, lalu pengetahuan yang ditransfer itu disimpan dalam komputer yang berguna bagi user berkonsultasi pada komputer untuk suatu nasehat kemudian komputer dapat menyimpulkan dari yang dikonsultasikan  seperti layaknya seorang pakar, selain itu juga komputer bisa menjelaskan ke user tersebut bahkan dengan alasan-alasannya.

Menurut Efraim Turban (dalam Hasanah,2011) konsep dasar sistem pakar mengandung: keahlian, ahli, pengalihan keahlian, inferensi, aturan dan kemampuan menjelaskan. Keahlian adalah suatu kelebihan penguasaan pengetahuan di bidang tertentu yang diperoleh dari pelatihan, membaca atau pengalaman.

Ciri-Ciri Sistem Pakar

  • Mudah dimodifikasi
  • Dapat digunakan dalam berbagai jenis komputer
  • Memiliki kemampuan untuk belajar beradaptasi
  • Memiliki fasilitas informasi yang handal

Keuntungan Sistem Pakar :

  • Tidak memerlukan biaya saat tidak digunakan, sedangkan pada pakar manusia memerlukan biaya sehari-hari.
  • Menghemat waktu dalam pengambilan keputusan.
  • Meningkatkan kapabilitas sistem terkomputerisasi yang lain. Integrasi  sistem pakar dengan komputer lain membuat lebih efektif, dan bisa mencakup lebih banyak aplikasi.

Kelemahan Sistem Pakar :

  • Sulit dikembangkan, hal ini erat kaitannya dengan ketersediaan pakar di bidangnya dan kepakaran sangat sulit di ekstrak dari manusia karena sangat sulit bagi seorang pakar untuk menjelaskan langkah mereka dalam menangani masalah.
  • Sistem pakar tidak 100% benar karena seseorang yang terlibat dalam pembuatan sistem pakar tidak selalu benar. Oleh karena itu perlu diuji ulang secara teliti sebelum digunakan.
  • Transfer pengetahuan dapat bersifat subjektif dan bias.

Gambar Komponen-komponen sistem pakar

Gambar 1 : Komponen-komponen yang terdapat dalam arsitektur/struktur sistem pakar (http://nurulaisyah2.wordpress.com/2012/10/13/sistem-pakar/)

Contoh Sistem Pakar

a. MYCIN (sistem MYCIN bisa digunakan sebagai bahan pembanding dalam pengambilan solusi dan pemecahan masalah. Keputusan terakhir atas pengobatan tersebut tetap menjadi tanggung jawab dokter)

b. DENDRAL (mengidentifikasi struktur molekular campuran kimia yang tak dikenal)

c.  SOPHIE (analisis sirkuit elektronik)

d. PROSPECTOR (Sistem pakar yang membantu ahli geologi dalam mencari dan menemukan deposit)

e. DELTA (sistem yang dirancang untuk membantu karyawan bagian pemeliharaan mesin lokomotif diesel dalam memantau mesin-mesin yang tidak berfungsi dengan baik dan membimbing ke arah prosedur perbaikan)

f. FOLIO (sistem yang menolong stock broker dan tugas manajer dalam menangani investasi bagi kepentingan para langganannya)

g. EL (digunakan untuk menganalisa dan membantu rekayasa rancangan sirkuit elektronik yang terbuat dari transistor, dioda dan resistor)

h. YESMVS (membantu operator komputer dan mengontrol sistem operasi MVS(Multiple Virtual Storage))

i.  ACE (sistem Pakar troubleshooting pada sistem kabel telepon)

Aplikasi Sistem Pakar Dalam Bidang Psikologis

Salah satu implementasi yang diterapkan sistem pakar dalam bidang psikologi, yaitu untuk sistem pakar menentukan jenis gangguan perkembangan pada anak. Anak-anak merupakan fase yang paling rentan untuk mengalamin gangguan dan sangat perlu diperhatikan satu demi satu tahapan perkembangannya. Contoh satu bentuk gangguan perkembangan adalah conduct disorder. Conduct disorder adalah satu kelainan perilaku dimana anak sulit membedakan benar salah atau baik dan buruk, sehingga anak merasa tidak bersalah walaupun sudah berbuat kesalahan. Dampaknya akan sangat buruk bagi perkembangan sosial anak tersebut.

Contoh lain implementasinya adalah tes kepribadian. Aplikasi tes kepribadian berbasiskan sistem pakar ini, lebih mudah dan lebih cepat dalam proses pengukuran kepribadian dibandingkan metode terdahulu, sehingga memberikan banyak keuntungan dari segi penghematan waktu, tenaga, dan memudahkan kinerja user (pemakai) dalam mengukur kepribadiannya masing-masing. Selain itu aplikasi tes kepribadian ini dikemas dengan tampilan yang cukup menarik. Namun demikian, aplikasi tes kepribadian berbasiskan sistem pakar ini tidak bisa menggantikan seorang ahli karena dia pakar di bidangnya. Aplikasi sistem pakar ini hanyalah alat bantu yang sangat bergantung pada data-data yang di-input oleh seorang programmer sehingga aplikasi sistem pakar ini haruslah selalu dikembangkan.

Gambar  2 Use Case Diagram Aplikasi Sistem Pakar Tes kepribadian

Gambar  2 Use Case Diagram Aplikasi Sistem Pakar Tes kepribadian

B. SISTEM PENGAMBILAN KEPUTUSAN

Sistem yang berbasis komputer yang dipergunakan untuk membantu para pengambil keputusan dalam rangka memecahkan masalah-masalah rumit yang “mustahil” dilakukan dengan kalkulasi manual dengan cara melalui simulasi yang interaktif dimana data dan model analisis sebagai komponen utama. Pengertian sistem pengambilan keputusan (SPK) atau DSS (Decision Support System) secara umum adalah Sebuah sistem yang mampu memberikan kemampuan baik kemampuan pemecahan masalah maupun kemampuan pengkomunikasian untuk masalah semi terstruktur sedangkan secara khusus adalah Sebuah sistem yang mendukung kerja seorang manajer maupun sekelompok manajer dalam memecahkan masalah semi terstruktur dengan cara memberikan informasi ataupun usulan menuju pada keputusan tertentu. Menurut Moore and Chang (dalam arfian, 2011) SPK dapat digambarkan sebagai sistem yang berkemampuan mendukung analisis ad hoc data, dan pemodelan keputusan, berorientasi keputusan, orientasi perencanaan masa depan, dan digunakan pada saat-saat yang tidak biasa. Jadi menurut saya sistem pengambilan keputusan adalah suatu sistem yang dirancang untuk mengkomunikasikan masalah dan menyelesaikan pemecahan masalah yang dilakukan manajer bersifat semi struktur yang spesifik.

Gambar 3. Model DSS (Decision Suporrt Sytem)

Gambar 3. Model DSS (Decision Suporrt Sytem)

 (http://arfian-07111032.blogspot.com/2009_06_01_archive.html)

Contoh gambar  aplikasi sistem pengambilan keputusan dengan ilmu matematika

Contoh gambar  aplikasi sistem pengambilan keputusan dengan ilmu matematika

(http://moethya26.wordpress.com/category/psychology/sistem-informasi-psikologi/cbis/)

Contoh lain: antara sistem pengambilan keputusan aplikasi Business Intelligence – Dashboard sebagai ajuan system pendukung keputusan atau decision support system yang hendak diimplementasikan dalam perusahaan:

Prototipe Tampilan Dashboard untuk Pengaplikasian Business Intelligence bagi Sistem Pendukung Keputusan, Dibuat Menggunakan Tool Xcelcius Disambungkan ke Warehouse SAP-Business Intelligence

Prototipe Tampilan Dashboard untuk Pengaplikasian Business Intelligence bagi Sistem Pendukung Keputusan, Dibuat Menggunakan Tool Xcelcius Disambungkan ke Warehouse SAP-Business Intelligence

Elemen-elemen yang ditampilkan:

  1. Grafik keseluruhan angka penjualan tiket yang dihasilkan tim Sales setiap harinya dimana manajemen dapat meilhat pergerakan terakhir yang terjadi satu jam sebelum pengaksesan dashboard.
  2. Grafik keseluruhan angka penjualan tiket yang dihasilkan pada satu hari sebelum pengaksesan dashboard (H-1)
  3. Grafik keseluruhan angka penjualan secara mingguan (pergerakan mingguan).
  4. Grafik keseluruhan angka penjualan secara bulanan (pergerakan bulanan).
  5. Grafik keseluruhan angka penjualan secara tahunan (pergerakan tahunan).
  6. Grafik penjualan per staff sales untuk mengukur kinerja masing-masing personel.
  7. Grafik pembelian dari setiap klien yang kategorinya adalah:
  8. Pembelian per klien Travel Agent
  9. Pembelian per perusahaan
  10. Pembelian per wilayah kota penjualan di Indonesia; semua kota yang memiliki bandara (missal Jakarta, Bandung, Surabaya, dan lainnya).

3. AI (Artificial Intelligence)

Menurut John McCarthy (1956), AI (artificial intelligence) adalah Untuk mengetahui dan memodelkan proses-proses berpikir manusia dan mendesain mesin agar dapat menirukan perilaku manusia. Sedangkan menurut Simon (1987) bahwa kecerdasan buatan (artificial intelligence) merupakan kawasan penelitian, aplikasi dan instruksi yang terkait dengan pemrograman komputer untuk melakukan sesuatu hal yang -dalam pandangan manusia adalah cerdas. Tujuan dari kecerdasan buatan menurut Winston dan Prendergast(1984) yaitu  membuat mesin menjadi lebih pintar (tujuan utama), memahami apa itu kecerdasan (tujuan ilmiah) dan membuat mesin lebih bermanfaat (tujuan entrepreneurial).

a. Perbandingan Kecerdasan Buatan dengan Kecerdasan Alamiah

  • Keuntungan Kecerdasan Buatan dibanding kecerdasan alamiah:
    • Memberikan kemudahan dalam duplikasi dan penyebaran
    • Dapat didokumentasi
    • Dapat mengerjakan beberapa task dengan lebih cepat dan lebih baik dibanding manusia
  • Keuntungan Kecerdasan Alamiah dibanding kecerdasan buatan:
    • Bersifat lebih kreatif
    • Dapat melakukan proses pembelajaran secara langsung, sementara AI harus mendapatkan masukan berupa simbol dan representasirepresentasi
    • Fokus yang luas sebagai referensi untuk pengambilan keputusan sebaliknya AI menggunakan fokus yang sempit

    b.   Bidang AI

    • System pakar adalah suatu system yang dibuat berdasarkan orang yang benar -benar ahli dalam bidang dan berpengalaman
    • Pengolahan Bahasa Alami (natural language processing) adalah suatu bidang yang dimana ai tersebut mengolah perintah bahasa sehari -hari ke dalamAI tersebut agar melakukan sesuatu yang sesuai dengan perintah tersebut
    • Pengenalan visual adalah suatu bidang AI yang mengubah hasil visual dalam komputer kita ke dalam bentuk suara bidang ini juga berfungsi sebagai alat bantu bagi tunanetra untuk membaca
    • Pengenalan ucapan adalah suatu bidang AI yang mengubah bentuk suara dalam suatu format file agar dapat dibaca dan sebalik na mengubah suatu text file menjadi suara oleh penguna misal nya sepertitelpon untuk orang bisu dan tuli
    • Robotika dan sensor adalah bidang AI yang berfungsi sebagai mendeteksi suatu keberadaan benda sehingga AI tersebut dapat bergerak sesuai dengan program yang telah dirancang
    • Computer Vision adalah bidang AI yang berfungsi untuk mengetahui hasil inputan dan di keluarkan dalam bentuk visual misal nya pengenalan pola sidik jari dan pengenalan tulisan
    • Intelligent computer-aided instruction adalah bidang AI yang berfungsi sebagai tutor atau membantu dalam pembelajaran di bidang tertentu
    • Game Playing adalah bidang AI yang dibuat dalam permainan misalnya Deep blue adalah program AI yang dibuat untuk permainan catur

c.    Aplikasi AI dalam Ilmu Kognitif :

Bidang Kesehatan :

1) Rekam Medik Elektronik (Electronic Medical Record atau EMR)

2) Kecerdasan buatan untuk analisis kondisi ginjal pasien

3) Versi seperti sinar-X yang dilengkapi dengan visualisasi realitas yang memungkinkan dokter bedah otak untuk “melihat ke dalam” jaringan untuk mengoperasikan, mengawasi, dan mengevaluasi keadaan penyakit.

4) Animasi otomatis dan interface peraba yang memungkinkan pemakai untuk berinteraksi dengan objek virtual memalui sentuhan (misalnya, mahasiswa kedokteran dapat “merasakan” cara menjahit pembuluh nadi yang rusak).

 d.   Aplikasi AI dalam Ilmu Robotik :

1) Blaise Pascal menciptakan mesin penghitung digital mekanis pertama pada 1642. Pada 19, Charles Babbage dan Ada Lovelace bekerja pada mesin penghitung mekanis yang dapat diprogram. Program AI pertama yang bekerja ditulis pada 1951 untuk menjalankan mesin Ferranti Mark I di University of Manchester (UK): sebuah program permainan naskah yang ditulis oleh Christopher Strachey dan program permainan catur yang ditulis oleh Dietrich Prinz.

2) John McCarthy membuat istilah “kecerdasan buatan ” pada konferensi pertama yang disediakan untuk pokok persoalan ini, pada 1956. Dia juga menemukan bahasa pemrograman Lisp

 e.    Aplikasi AI dalam Interface Alami :

1)  Teknologi bahasa alami untuk menelusuri semua jenis informasi online, dari teks hingga gambar, video, peta, dan klip audio, sebagai tanggapan terhadap pertanyaan dalam bahasa Inggris. Contohnya Google map dll.

2) Sistem interface komputer-manusia (human-computer interface – HCI) yang cerdas yang dapat memahami bahasa lain dan bahasa tubuh, serta membantu penyelesaian masalah dengan cara mendukung kerja sama dalam organisasi guna menyelesaikan masalah tertentu.

 f.     Gambar AI

Gambar AI

KESIMPULAN

Sistem yang bekerja seperti seorang ahli disebut dengan sistem pakar. Pada dasarnya, sebuah sistem pakar adalah spesialis tiruan yang memecah masalah yang termasuk dalam keahliannya. Sistem pakar telah dirancang untuk memecahkan masalah dalam bidang kedokteran, hukum, aerodinamis, catur, dan hal-hal rutin yang sangat banyak yang biasanya membosankan kita atau mungkin beberapa kasus yang sulit dipecahkan manusia. Sistem ini mengikuti aturan-aturan yang telah ada, yang sering mengggunakan pohon keputusan tetapi bagaimanapun sistem ini hanya bisa “memikirkan” satu hal saja. Sistem pakar dalam bidang kesehatan mungkin tidak bisa melihat isi dari sebuah lubang di lantai tetapi bisa membuat diagnosis yang akurat dan masuk akal. Salah satu alasan ilmuan AI memperhatikan pemecahan masalah karena istilah tersebut mirip dengan berpikir yang dalam bentuknya yang menakjubkan adalah atribut manusia yang unik. Fakta ini dan kemampuan umum mesin AI dengan kemampuan untuk memenuhi prosedur pemecahan masalah telah membuat teknik maupun teori mengenai hal ini tumbuh pesat. Kesimpulan tentang AI dan simulasi komputer adalah adanya lompatan besar antara konsep dari jenis aksi yang dihasilkan otak manusia dan otak buatan. Ketika dan jika program pemikir di masa depan mampu melampaui pemikiran manusia, maka manusialah yang secara otomatis akan memberi makan informasi terhadap komputer dan mengaturnya dalam operasional mesin pemikir yang baru. Mungkin akan lebih cermat jika menempatkan skema ke dalam otak yang baru yang akan mampu menjelaskan hal-hal kepada kita dengan istilah manusia yang sederhana atau kita akan tersingkir dari sisi fungsi pelayanan kita bukan dari fungsi intelektualnya.

 DAFTAR PUSTAKA

Aisyah, N. (2012). Sistem pakar. Diakses tanggal 25 september 2013. http://nurulaisyah2.wordpress.com/2012/10/13/sistem-pakar/.

 Anonim (2009).  Artificial Intelligence (AI). Diakses tanggal 30 september 2013. xa.yimg.com/kq/groups/23099829/388447379/name/AI-01.ppt‎.

 Anonim (2012). Decision support system ( sistem pendukung keputusan). Diakses tanggal 29 september 2013. http://ag92110007.wordpress.com/decision-support-system-sistem-pendukung-keputusan/.

 Anonim. (2012). Chapter II. Diakeses tanggal 26 september 2013. repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/16955/4/Chapter II.pdf.

 Anonim. (2012). Sistem informasi psikologi. Diakses tanggal 27 september 2013.http://moethya26.wordpress.com/category/psychology/sistem-informasi-psikologi/cbis/.

 Arfian. (2009). Archive. Diakses tanggal 26 september 2013. http://arfian-07111032.blogspot.com/2009_06_01_archive.html.

 Ekky. (2012). Pengertian sistem informasi berbasis. Diakses tanggal 26 september 2013.http://ekky-psikologi08.blogspot.com/2012/04/pengertian-sistem-informasi-berbasis.html.

 Hasanah, I. (2010).  Jelaskan pengertian sistem informasi. Diakses tangal 26 september 2013. http://mimamami-mima.blogspot.com/p/jelaskan-pengertian-sistem-informasi_7419.html.

 Noohayati. (2010). Aplikasi AI. Diaksese tanggal 30 september 2013. noorhayatin.staff.umm.ac.id/files/2010/10/aplikasi-AI-Kelompok-9.pptx

 Syamzdiary. (2010). Pengenalan pada manajemen informasi. Diakses tanggal 26 september 2013. http://syamzdiary.blogspot.com/2010/11/pengenalan-pada-manajemen informasi.html.

 Togatorop, V. (2012). Sistem informasi berbasis komputer. Diakses tanggal 26 september 2013. http://veratogatorop.blogspot.com/2012/04/sistem-informasi-berbasis-komputer.html.

 

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

Arsitektur Komputer dan Struktur Kognisi Manusia

ARSITEKTUR KOMPUTER DAN STRUKTUR KOGNISI MANUSIA

Di zaman modern ini perkembangan teknologi sangatlah pesat sehingga bukan hal yang tidak mungkin apabila dua bidang yaitu IT dengan psikologi saling keterkaitan. Dalam hal membuat suatu terobosan baru yang mungkin sebelumnya tidak pernah terpikirkan atau terbayakan akan tetapi buktinya seperti contoh halnya yang akan saya bahas kali ini mengenai arsitektur komputer dan struktur kognisi manusia.

1.    Arsitektur Komputer

Arsitektur komputer adalah konsep perencanaan dan struktur pengoperasian dasar dari suatu sistem komputer. Arsitektur komputer sendiri mempelajari atribut-atribut sistem komputer yang terkait dengan seorang programmer dan memiliki dampak langsung pada eksekusi logis sebuah program. Beberapa contoh dari arsitektur komputer ini adalah arsitektur von Neumann, CISC, RISC, blue Gene, dan lain-lainnya. Untuk lebih jelasnya lihat disini (http://adeirmasuryani.wordpress.com/2012/10/07/hubungan-arsitektur-komputer-dan-kognisi-manusia/.)

Gambar 1. Arsitektur komputer

 (http://xprashp-notes.blogspot.com/2011/02/pengenalan-teknologi-informasi-b-ku1072.html)

Dengan keterangan sebagai berikut:

Perangkat Komputer

Perangkat keras – CPU: Motherboard, RAM, Processor, VGA Card, Harddisk.

Perangkat keras – Input: Keyboard, Mouse, Scanner, Camera, Microphone.

Perangkat keras – Output: Monitor, Speaker, Printer, Projector.

Perangkat keras – Storage: CD/ DVD, USB, Flashdisk, MicroSD card

Perangkat lunak – Operating System: Windows, Linux, MacOS, BSD.
Perngakat Lunak – Aplikasi: Microsoft Office, Google Chrome, Windows Media Player, MATLAB.

2. Struktur Kognisi Manusia

Sebelum membahas apa itu struktur kognisi manusia? ada baiknya kalau kita mengartikan kata struktur dan kognisi terlebih dahulu untuk mempermudah kita dalam memahaminya. Menurut Prof. Benny H. Hoed (dalam Ekky, 2012) struktur adalah bangun (teoritis) yang terdiri atas unsur-unsur yang berhubungan satu sama lain dalam satu kesatuan, sedangkan kognitif, Menurut Drever (Solihin, 2012) disebutkan bahwa ” kognisi adalah istilah umum yang mencakup segenap model pemahaman, yakni persepsi, imajinasi, penangkapan makna, penialain, dan penalaran”. Dan Menurut Chaplin (2002) dikatakan bahwa “kognisi adalah konsep umum yang mencakup semua bentuk mengenal, termasuk di dalamnya mengamati, melihat, memperhatikan, memberikan, menyangka, membayangkan, memperkirakan, menduga dan menilai”. Untuk lebih lanjutnya silahkan lihat disini (http://adeirmasuryani.wordpress.com/2012/10/07/hubungan-arsitektur-komputer-dan-kognisi-manusia/.)

Gambar 2. Struktur kognisi manusia (http://psikology09b.blogspot.com/2011/05/kognisi-sepanjang-masa-kehidupan.html)

3. Perbedaan antara arsitektur komputer dan struktur kognisi manusia

Kelebihan dan kekurangan dari arsitektur komputer, yaitu :
Kelebihan:

  1. Memiliki processor yang berjumlah lebih dari satu
  2. Bisa digunakan oleh banyak pengguna (multi user)
  3. Dapat membuka beberapa aplikasi dalam waktu bersamaan
  4. Kecepatan kerja processornya hingga 1GOPS (Giga Operations Per Second)

Kekurangan:

  1. Karena ukurannya yang besar, maka diperlukan ruangan yang besar untuk menyimpannya
  2.  Harganya sangat mahal
  3. Interface dengan pengguna masih menggunakan teks
  4. Membutuhkan daya listrik yang sangat besar

Kelebihan dan kekurangan dari struktur kognisi, yaitu :
Kelebihan :

  1. Struktur kognisi lebih sistematis sehingga memiliki arah dan tujuan yang jelas
  2. Banyak memberi motivasi agar terjadi proses belajar
  3. Mengoptimalisasikan kerja otak secara maksimal

Kekurangan :

  1. Membutuhkan waktu yang cukup lama
  2. Terkadang sulit mengaplikasikannya dikehidupan sehari-hari, karena tergantung individu masing-masing dalam mengoptimalkan cara berpikir mereka

 4. Kesimpulan

Jadi dapat disimpulkan antara arsitektur komputer dan struktur kognisi manusia bahwa struktur kognitif manusia itu proses-proses mental atau berpikir yang terjadi pada diri manusia itu sendiri, dimana manusia memiliki kontrol terhadap proses berpikirnya sedangkan arsitektur komputer yang menciptakan adalah manusia, manusialah yang membuat program, manusia yang membuat pola dari sistem komputer tersebut maka komputer akan menjalankan sesuai dengan yang diperintahkan manusia saja. Tujuan arsitektur komputer dibuat untuk memudahkan manusia dalam menggunakan komputer. Hal ini terkait dengan proses koginif manusia dalam mengingat informasi sehingga jika dipersatukan, maka akan timbul suatu hubungan timbal balik yang sangat menguntungkan di keduanya.

Daftar Pustaka

Anonim. (2011). Kognisi sepanjang masa kehidupan. http://psikology09b.blogspot.com/2011/05/kognisi-sepanjang-masa-kehidupan.html. Diakses tanggal 26 september 2013.

Dyta, F. (2012). Analisis perbedaan struktur kognisi manusia dan arsitektur komputer. http://fadlandyta.wordpress.com/2012/03/30/analisa-perbedaan-struktur-kognisi-manusia-dan-arsitektur-komputer/. Diakses tanggal 26 september 2013.

Ekky. (2012). Analisis perbedaan struktur kognisi . http://ekky-psikologi08.blogspot.com/2012/03/analisa-perbedaan-struktur-kognisi.html. Diakses tanggal 26 september 2013.

 Purnomo, A. (2012). Hubungan arsitektur komputer dan kognisi manusia. http://4jipurnomo.wordpress.com/hubungan-arsitektur-komputer-dan-kognisi-manusia/. Diakses tanggal 26 september 2013

Purwoko, P. H. (2011). Pengenalan teknologi informatika. http://xprashp-notes.blogspot.com/2011/02/pengenalan-teknologi-informasi-b-ku1072.html. Diakses tanggal 26 september 2013.

 Solihin, N. (2010). http://pendidikan-info.blogspot.com/2010/01/pendekatan-pendidikan-menurut-paham.html. Diakses tanggal 26 september 2013.

 Suryani, A. I. (2010). Hubungan arsitektur komputer dan kognisi manusia. http://adeirmasuryani.wordpress.com/2012/10/07/hubungan-arsitektur-komputer-dan-kognisi-manusia/. Diakses tanggal 26 september 2013.

Wulandari, N. (2012). Analisa perbedaan struktur kognitif manusia   dan komputer. http://ninambel89.blogspot.com/2012/03/analisa-perbedaan-struktur-kognitif.html. Diakses tanggal 26 september 2013.

 

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

Psikoterapi (Logotherapy)

Ririn Yulita Prihandini (19510426/3PA01)

PSIKOTERAPI

LOGOTHERAPY

A. Tokoh Logotherapy

Logoterapi diperkenalkan oleh Viktor Frankl, seorang dokter ahli penyakit saraf dan jiwa (neuro-psikiater). Logoterapi berasal dari kata “logos” yang dalam bahasa Yunani berarti makna (meaning) dan juga rohani (spirituality), sedangkan terapi adalah penyembuhan atau pengobatan. Logoterapi secara umum dapat digambarkan sebagai corak psikologi/ psikiatri yang mengakui adanya dimensi kerohanian pada manusia di samping dimensi ragawi dan kejiwaan, serta beranggapan bahwa makna hidup (the meaning of life) dan hasrat untuk hidup bermakna (the will of meaning) merupakan motivasi utama manusia guna meraih taraf kehidupan bermakna (the meaningful life) yang didambakannya.

 B.  Ada tiga asas utama logotherapy yang menjadi inti dari terapi ini, yaitu:

    1. Hidup itu memiliki makna (arti) dalam setiap situasi, bahkan dalam penderitaan dan kepedihan sekalipun. Makna adalah sesuatu yang dirasakan penting, benar, berharga dan didambakan serta memberikan nilai khusus bagi seseorang dan layak dijadikan tujuan hidup.
    2. Setiap manusia memiliki kebebasan – yang hampir tidak terbatas – untuk menentukan sendiri makna hidupnya. Dari sini kita dapat memilih makna atas setiap peristiwa yang terjadi dalam diri kita, apakah itu makna positif atupun makna yang negatif. Makna positif ini lah yang dimaksud dengan hidup bermakna.
    3. Setiap manusia memiliki kemampuan untuk mangambil sikap terhadap peristiwa tragis yang tidak dapat dielakkan lagi yang menimpa dirinya sendiri dan lingkungan sekitar. Contoh yang jelas adalah seperti kisah Imam Ali diatas, ia jelas-jelas mendapatkan musibah yang tragis, tapi ia mampu memaknai apa yang terjadi secara positif sehingga walaupun dalam keadaan yang seperti itu Imam tetap bahagia.

C.    Ajaran Logohterapy

Ketiga asas itu tercakup dalam ajaran logoterapi mengenai eksistensi manusia dan makna hidup sebagai berikut.

a. Dalam setiap keadaan, termasuk dalam penderitaan sekalipun, kehidupan ini selalu mempunyai makna.

b.  Kehendak untuk hidup bermakna merupakan motivasi utama setiap orang.

c. Dalam batas-batas tertentu manusia memiliki kebebasan dan tanggung jawab pribadi untuk memilih, menentukan dan memenuhi makna dan tujuan hidupnya.

d. Hidup bermakna diperoleh dengan jalan merealisasikan tiga nilai kehidupan, yaitu nilai-nilai kreatif (creative values), nilai-nilai penghayatan (eksperiental values) dan nilai-nilai bersikap (attitudinal values).

 D. Tujuan Logotherapy

Tujuan dari logoterapi adalah agar setiap pribadi:

a. memahami adanya potensi dan sumber daya rohaniah yang secara universal ada pada setiap orang terlepas dari ras, keyakinan dan agama yang dianutnya;

b. menyadari bahwa sumber-sumber dan potensi itu sering ditekan, terhambat dan diabaikan bahkan terlupakan.

c. memanfaatkan daya-daya tersebut untuk bangkit kembali dari penderitaan untuk mamp[u tegak kokoh menghadapi berbagai kendala, dan secara sadar mengembangkan diri untuk meraih kualitas hidup yang lebih bermakna.

E. Pandangan Logotherapy terhadap Manusia

a. Menurut Frankl manusia merupakan kesatuan utuh dimensi ragawi, kejiwaan dan spiritual. Unitas bio-psiko-spiritual.

b. Frankl menyatakan bahwa manusia memiliki dimensi spiritual yang terintegrasi dengan dimensi ragawai dan kejiwaan. Perlu dipahami bahwa sebutan “spirituality” dalam logoterapi tidak mengandung konotasi keagamaan karena dimens ini dimiliki manusia tanpa memandang ras, ideology, agama dan keyakinannya. Oleh karena itulah Frankl menggunakan istilah noetic sebagai padanan dari spirituality, supaya tidak disalahpahami sebagai konsep agama.

c. Dengan adanya dimensi noetic ini manusiamampu melakukan self-detachment, yakni dengan sadar mengambil jarak terhadap dirinya serta mampu meninjau dan menilai dirinya sendiri.

d. Manusia adalah makhluk yang terbuka terhadap dunia luar serta senantiasa berinteraksi dengan sesama manusia dalam lingkungan sosial-budaya serta mampu mengolah lingkungan fisik di sekitarnya.

F.  Logotherapy sebagai Teori Kepribadian

Kerangka pikir teori kepribadian model logoterapi dan dinamika kepribadiannya dapat digambarkan sebagai berikut: Setiap orang selalu mendambakan kebahagiaan dalam hidupnya. Dalam pandangan logoterapi kebahagiaan itu tidak datang begitu saja, tetapi merupakan akibat sampingan dari keberhasilan seseorang memenuhi keinginannya untuk hidup bermakna (the will to meaning). Mereka yang berhasil memenuhinya akan mengalami hidup yang bermakna (meaningful life) dan ganjaran (reward) dari hidup yang bermakna adalah kebahagiaan (happiness).

Di lain pihak mereka yang tak berhasil memenuhi motivasi ini akan mengalami kekecewaan dan kehampaan hidup serta merasakan hidupnya tidak bermakna (meaningless). Selanjutnya akibat dari penghayatan hidup yang hampa dan tak bermakna yang berlarut-larut tidak teratasi dapat mengakibatkan gangguan neurosis (noogenik neurosis) mengembangkan karakter totaliter (totalitarianism) dan konformis (conformism).

G.  Existensi manusia menurut pandangan logotherapy

1. Freedom of will (memiliki kebebasan berkendak)

Dalam pandangan logotherapy manusia memilki kebebasan untuk menentukan sikap terhadap kondisi-kondisi psikologis, sosiokultural dan kesejarahannya. Kemampuan inilah yang menyebabkan manusia memiliki kebebasan untuk menentukan apa yang dianggap penting dan baik bagi dirinya. Kebebasan ini dalam pandangan logoterapi harus diimbangi dengan tanggung jawab agar tidak berkembang menjadi kesewenangan.

2. Will to meaning (Memiliki kehendak untuk hidup bermakna)

Hasrat untuk dapat hidup inilah yang memotivasi individu untuk bekerja, berkarya dan melakukan kegiatan-kegiatan penting dengan tujuan agar hidupnya menjadi berharga dan dihayati secara bermakna. Sebagai motivasi utama manusia, hasrat untuk hidup bermakna, mendambakan seseorang menjadi pribadi yang berharga dan berarti dengan kehidupan yang sarat dengan kegiatan bermakna.

3.  Meaning of life (Memiliki makna hidup)

Makna hidup adalah sesuatu yang dianggap penting, benar dan didambakan serta memberikan nilai khusus bagi seseorang ( Bastaman, 1996 ). Untuk tujuan praktis maknahidup dianggap identik dengan tujuan hidup. Makna hidup bisa berbeda antara manusia satudengan yang lainya dan berbeda setiap hari, bahkan setiap jam. Karena itu, yang pentingbukan makna hidup secara umum, melainkan makna khusus dari hidup seseorang pada suatusaat tertentu. Setiap manusia memiliki pekerjaan dan misi untuk menyelesaikan tugas khusus.Dalam kaitan dengan tugas tersebut dia tidak bisa digantikan dan hidupnya tidak bisa diulang.Karena itu, manusia memiliki tugas yang unik dan kesempatan unik untuk menyelesaikantugasnya ( Frankl, 2004).

H.  Karakteristik makna hidup menurut Victor Frankl adalah:

a. Makna hidup itu bersifat unik dan personal, artinya apa yang dianggap oleh seseorang, belum tentu berarti bagi orang lain. Bahkan apa yang dianggap penting dan bermakna pada saat ini oleh seseorang belum tentu sama maknanya bagi orang itu pada waktu yang lain. Jadi, makna hidup seseorang itu bersifat khusus, berbeda dengan orang lain, dan berubah dari waktu ke waktu.

b. Makna hidup itu bersifat spesifik dan konkrit, artinya dapat ditemukan dalam pengalaman dan kehidupan nyata sehari-hari dan tidak selalu harus dikaitkan dengan tujuan-tujuan idealistis, prestasi-prestasi akademis yang tinggi atau hasil renungan filosofis yang kreatif.

c.  Makna hidup itu bersifat memberi pedoman dan arah terhadap kegiatan-kegiatan yang dilakukan sehingga makna hidup seakan-akan menantang individu untuk memenuhinya. Jadi dalam pandangan logoterapi makna hidup adalah: “Bertanggungjawab terhadap hidupnya karena sikap bertanggung jawab merupakan esensi dasar kehidupan manusia”.

Frankl (Dalam Trimardhany, 2003) menyimpulkan bahwa makan hidup bisa ditemukan melalui tiga cara, yaitu:

  1.  Nilai Kreatif

Nilai kreatif dapat diraih melalui berbagai kegiatan. Pada dasarnya seorang bisa mengalamistress jika terlalu banyak beban pekerjaan, namun ternyata seseorang akan merasa hampa danstress pula jika tidak ada kegiatan yang dilakukannya. Kegitan yang dimaksud tidaklahsemata-mata kegiatan mencari uang, namun pekerjaan yang membuat seorang dapat merealisasikan potensi-potensinya sebagai sesuatu yang dinilainya berharga bagi dirinyasendiri atau orang lain maupun kepada tuhan.

2. Nilai Penghayatan

Nilai penghayatan menurut Frankl dapat dikatakan berbeda dari nilai kreatif karena caramemperoleh nilai penghayatan adalah dengan menerima apa yang ada dengan penuhpemaknaan dan penghayatan yang mendalam. Realisasi nilai penghayatan dapat dicapaidengan berbagai macam bentuk penghayatan terhadap keindahan, rasa cinta dan memahamisuatu kebenaran ( Frankl dalam Koeswara, 1992 ). Makna hidup dapat diraih melaluiberbagai momen maupun hanya dari sebuah momen tunggal yang sangat mengesankan bagiseseorang misalnya memaknai hasil karya sendiri yang dinikmati orang lain.

3. Nilai Bersikap

Nilai terakhir adalah nilai bersikap. Nilai ini sering dianggap paling tinggi karena di dalammenerima kehilangan kita terhadap kreativitas maupun kehilangan kesempatan untuk menerima cinta kasih, manusia tetap bisa mencapai makna hidupnya melalui penyikapanterhadap apa yang terjadi. Bahkan di dalam suatu musibah yang tak terelakan, seorang masihbisa dijadikannya suatu momen yang sangat bermakan dengan cara menyikapinya secara tepat. Dengan perkataan lain penderitaan yang dialami seseorang masih tetap dapatmemberikan makna bagi dirinya.

Menurut Bastaman (1996) menyederhanakan dan memodifikasi metode Logoanalysis sebagai berikut :

  1.  Pemahaman Pribadi

Mengenali secara objektif kekuatan dan kelemahan diri sendiri dan lingkungan, baik yangmasih merupakan potensi maupun yang telah teraktualisasi untuk kemudian kekuatan-kekuatan itu dikembangkan dan kelemahan-kelemahan dihambat dan dikurangi

2. Bertindak positif

Mencoba menerapkan dan melaksanakan dalam perilaku dan tindakan-tindakan nyata sehari-hari yang dianggap baik dan bermanfaat. Bertindak positif merupakan kelanjutan dari berfikirpositif.

 3.  Pengakraban Hubungan

Secara sengaja meningkatkan hubungan yang baik dengan pribadi-pribadi tertentu (misalnya anggota keluarga, teman, rekan kerja, tetangga ), sehingga masing-masing merasa salingmenyayangi, saling membutuhkan dan bersedia bantu-membantu.

4. Pengalaman Tri Nilai

Berupaya untuk memahami dan memenuhi tiga ragam nilai yang dianggap sebagai sumbermakna hidup yaitu nilai-nilai kreatif ( kerja, karya ), nilai-nilai penghayatan ( kebebaran,keindahan, kasih, iman ), dan nilai-nilai bersikap ( menerima dan mengambil sikap yang tepatatas derita yang tidak dapat dihindari lagi ).

5. Ibadah

Ibadah merupakan upaya mendekatkan diri pada sang pencipta yang pada akhirnyamemberikan perasan damai, tentaram, dan tabah. Ibadah yang dilakukan secar terus-menerusdan khusuk memberikan perasan seolah-olah dibimbing dan mendapat arahan ketikamelakukan suatu perbuatan.

Frankl berpendapat bahwa manusia dapat memperolehmakna hidup yang bersumber dari :

  1. Nilai-nilai kreatif (creatif values), yaitu : berkarya, bekerja, mencipta, danmelaksanakan satu kegiatan dengan baik karena mencintai kegiatan itu.
  2. Nilai-nilai penghayatan (experiental values), yaitu : meyakini dan menghayatikebenaran, keyakinan, keindahan, cinta kasih, dan keimanan.
  3. Nilai-nilai bersikap (attitudinal values), yaitu : mengambil sikap tepat ataspengalaman tragis yang tak terhindarkan

Inti ajaran logoterapi ada 4, yaitu:

1. Dalam setiap keadaan apapun selalu memilki makna.

2. Kehendak akan hidup bermakna merupakan motivasi utama hidup.

3. Dalam batasan-batasan tertentu, manusia memiliki kebebasan untuk memilih, menetukan dan memenuhi tujuan hidupnya.

 I. Teknik Konseling atau Terapis Logotherapy

Terapi Logo masih menginduk kepada aliran psikoanalisis, akan tetapi menganut paham eksistensialisme. Mengenai teknik konseling, digunakan semua teknik yang kiranya sesuai dengan kasus yang dihadapi. Tampaknya kemampuan menggali hal – hal yang bermakna dari klien, amat penting.

 
DAFTAR  PUSTAKA

Borders, B. Communication Modernity & History. Hal 302-305. books.google.com/books?isbn=9791583056. Diakses tanggal 15 April 2013.

 Gunarsa, Singgih. D. Konseling dan Psikoterapi. Hal 177. books.google.com/books?isbn=9794159239. Diakses tanggal 16 April 2013.

 Tasmara, Toto. (2002). Membudayakan Etos Kerja Islam. Halaman 188. books.google.com/books?isbn=9795617680. Diakses tanggal 21 April 2013

 

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

Psikoterapi (Behavior Therapy)

Ririn Yulita Prihandini/19510426/3PA01

PSIKOTERAPI

BEHAVIOR THERAPY

 

1. Tokoh Behavior Therapy

      Teori behavioral berasal dari konsepsi yang dikembangkan oleh hasil-hasil penelitian psikologi eksperimental. Terutama dari Pavlov dengan classical conditioningnya dan B.F. Skiner dengan operant conditioningnya. Yang menurutnya berguna untuk memecahkan masalah-masalah tingkah laku abnormal dari yang sederhana (hysteria, obsesional neurosis, paranoid) sampai pada yang kompleks (seperti phobia, anxiety, dan psikosa) baik untuk individu atau kelompok. Tokoh-tokoh lainnya antara lain John D. Krumboltz, Carl E. Thoresen, Wolpe, Albert Bandura dan Ray. E. Hosfort. Teori behavioral lebih menekankan kepada perilaku di sini dan saat ini. Artinya, bahwa perilaku individu yang terjadi saat ini dipengaruhi oleh suasana lingkungan saat ini.

2. Konsep Utama Behavior Therapy

     Dalam pandangan tentang hakekat manusia, terapi behavior menganggap bahwa pada dasarnya manusia bersifat mekanistik dan hidup dalam alam yang deterministik, dengan sedikit peran aktif untuk memilih martabatnya. Perilaku manusia adalah hasil respon terhadap lingkungan dengan kontrol yang terbatas dan melalui interaksi ini kemudian berkembang pola-pola perilaku yang kemudian membentuk kepribadian. Dalam konsep behavior, perilaku manusia merupakan hasil dari proses belajar, sehingga dapat diubah dengan memanipulasi kondisi-kondisi belajar. Dengan demikian, terapi behavior hakekatnya merupakan aplikasi prinsip-prinsip dan teknik belajar secara sistematis dalam usaha menyembuhkan gangguan tingkah laku. Asumsinya bahwa gangguan tingkah laku itu diperoleh melalui hasil belajar yang keliru dan karenanya harus diubah melalui proses belajar, sehingga dapat lebih sesuai.

 3. Tujuan Behavior Therapy

        Tujuan utamanya menghilangkan tingkah laku yang salah dan mengantikannya dengan dengan tingkah laku yang baru yang lebih sesuai. Secara rinci tujuan tersebut adalah untuk:

  1. Menghapus pola-pola perilaku maladaptive anak dan membantu mereka mempelajari pola-pola tingkah laku yang lebih kontruksif
  2. Mengubah tingkah laku maladaptive anak
  3. Menciptakan kondisi-kondisi yang baru yang memungkinkan terjadi proses belajar ulang.

         Konseling dan terapi behavior pada dasarnya merupakan proses penghapusan hasil belajar yang salah dengan memberikan pengalaman-pengalaman belajar baru yang didalamnya mengandung respon-respon yang layak yang belum dipelajari. Sedangkan menurut Corey (dalam Koswara,2009) terdapat tiga fungsi tujuan dari konseling dan terapi behavior, yaitu: 1) refleksi masalah klien sekaligus arah konseling, 2) dasar pemilihan dan penggunaan strategi konseling dan terapi, 3) landasan untuk menilai hasil konseling dan terapi.

 4. Metode Behavior Therapy

       Menurut Krumboltz (dalam Surya, 2003) mengemukakan bahwa terdapat empat metode dalam terapi behavior, yaitu:

a. Operant Learning

Dalam metode ini yang penting adalah penguatan yang dapat menghasilkan perilaku yang diharapkan, serta pemanfaatan situasi diluar klien yang dapat memperkuat perilaku klien yang dikehendaki.

b. Unitative Learning atau Social Modeling

Dalam metode ini yang penting adalah perlunya konselor merancang perilaku adaptif yang dapat dijadikan model bagi klien, baik dalam bentuk rekaman, pengajaran berprogram, video. Film, biografi atau model.

c. Cognitive Learning

Metode ini lebih banyak menekankan pentingnya aspek perubahan kognitif klien. Dalam pelaksanaannya dapat dilakukan melalui pengajaran secara verbal, kontrak antara konselor dengan klien dan bermain peran

d. Emotional Learning

Metode ini diterapkan untuk individu yang mengalami kecemasan, melalui penciptaan situasi rileks dengan menghadirkan rangsangan yang menimbulkan kecemasan bersama dengan situasi rangsangan yang menimbulkan kesenangan, sehingga secara berangsur kecemasan tersebut berkurang dan akhirnya dapat dihilangkan.

     Sedangkan  teknik yang biasa digunakan dalam keempat pendekatan atau metode di atas antara lain:

  1. Desentisisasi sistematis, yaitu suatu cara yang digunakan untuk menghapus tingkah laku yang diperbuat secara negatif dengan menyertakan pemunculan tingkah laku yang berlawanan dengan tingkah laku yang hendak dihapuskan. Salah satu caranya adalah dengan melatih anak untuk santai dan mengasosiasikan keadaan santai dengan pengalaman-pengalaman pembangkit kecemasan.
  2. Latihan asertif, yaitu latihan mempertahankan diri akibat perlakuan orang lain yang menimbulkan kecemasan, dengan cara mempertahankan hak dan harga dirinya. Dalam pelaksanan teknik ini, penting bagi konselor atau terapis untuk melayih keberanian anank untuk berkata atau menyatakan pikiran dan perasaan yang sesungguhnya secara tegas. Caranya dapat melalui bermain peran. Misalnya anak diminta untuk berperan sebagai orang tua yang galak dan konselor atau terapis sebagai anak yang pendiam. Kemudian peran tersebut dipertukarkan.
  3. Terapi aversi, yaitu digunakan untuk menghilangkan kebiasaan buruk atau menghukum perilaku yang negatif dan memperkuat perilaku yang positif, dengan meningkatkan kepekaan klien agar mengganti respon pada stimulus yang disenanginya dengan kebalikan stimulus tersebut. Misalnya, anak yang suka mabuk, maka minumannya dicampur dengan obat tertentu yang dapat menjadikan pusing atau muntah
  4. Penghentian pikiran, teknik ini efektif digunakan untuk klien yang sangat cemas. Caranya, misalnya klien ditutup matanya sambil membayangkan dan mengatakan sesuatu yang menganggu dirinya.
  5. Kontrol diri, dilakukan untuk meningkatkan perhatian pada anak tugas-tugas tertentu, melalui prosedur self assessment, mencatat diri sendiri, menentukan tindakan diri sendiri dan menyusun dorongan diri sendiri
  6. Pekerjaan rumah, yaitu dengan memberikan tugas atau pekerjaan rumah kepada klien yang kurang mampu menyesuaikan diri dengan situasi tertentu. Misalnya, kepada klien yang suka melawan ketika dimarahi orang tua, maka diberi tugas selama satu minggu untuk tidak menjawab ketika sedang dimarahi, kemudian hasilnya dievaluasi dan secara berangsur ditingkatkan.

5. Fungsi dan Peranan Konselor atau Terapis Behavior Therapy

     Dalam pendekatan behavior telah menempatkan pentingnya fungsi dan peranan konselor atau terapis sebagai pengajar. Secara aktif, direktif dan kreatif konselor atau terapis diharapkan mampu menerapkan pengetahuan-pengetahuan yang dimilikinya guna mengajarkan keterampilan-keterampilan baru sesuai permasalahan klien dan tujuan yang diinginkan. Fungsi lain yang juga harus ditegakkan oleh konselor atau terapis selama proses konseling atau terapis adalah melaksanakan assesmen dan penilaian secara terus menerus, menetapkan sasaran perubahan perilaku dan bagaimana mengajarkan untuk mencapainya, peka terhadap perubahan-perubahan yang terjad, serta membantu mengembangkan tujuan-tujuan pribadi dan sosialnya.

6. Penerapan-penerapan dan Sumbangan-sumbangan Behavior Therapy

     Pendekatan ini telah bisa diterapkan secara luas pada terapi individual dan kelompok, lembaga-lembaga, sekolah-sekolah dan situasi-situasi belajar lainnya. Terapi tingkah laku adalah pendekatan pragmatis yang berlandaskan kesasihan ekseprimental atas hasil-hasil, kemajuan bisa ditaksir dan teknik-teknik baru bisa dikembangkan.

7. Kelebihan dan Kekurangan Behavior Therapy

        Kelebihan:  pendekatan behavior therapy merupakan suatu pendekatan terapi tingkah laku yang berkembang pesat sangat populer. Dikarenakan memenuhi prinsip-prinsip kesederhanaan, kepraktisan, kelogisan, mudah dipahami dan diterapkan, dapat didemontrasikan, menempatkan penghargaan khusus pada kebutuhan anak, serta adanya penekanan perhatian pada perilaku yang positif.

      Kekurangan: konseling atau terapi behavior bersifat dingin (kaku), kurang menyentuh aspek pribadi, bersifat manipulatif, dan mengabaikan hubungan antar pribadi, lebih terkonsentari pada teknik, meskipun konseling atau terapi behavior sering menyatakan persetujuan pada tujuan klien, akan tetapi pemilihan tujuan lebih sering ditentukan oelh konselor atau terapis, meskipun konselor atau terapis behavior menegaskan bahwa setiap klien adalah unik dan menuntut perilaku yang unik dan spesifik akan tetapi masalah salah satu klien sama dengan klien lainnya dan oleh karena tidak menuntut suatu strategi konseling atau terapi yang unik, perubahan klien hanya berupa gejala yang dapat berpindah kepada bentuk perilaku yang lain.

Daftar Pustaka

Corey, G. (2009). Teori dan Praktek Konseling & Psikoterapi.    Bandung: PT. Refika Aditama.

Gunarsa, Singgih. D. (1996). Konseling dan Psikoterapi. Jakarta: PT. BPK Gunung Mulia.

Kuntjojo, Profesionalisasi Bimbingan dan Konseling Sunardi, Permanarian & M. Assjari. (2008). Teori Konseling. Bandung: PLB FIP UPI.

Surya, M. (2003). Teori-teori Konseling. Bandung: C.V. Pustaka Bani Quraisy.

 

 

 

 

 

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

Psikoterapi (Rational Emotive Therapy)

Ririn Yulita Prihandini/19510426/3PA01

Rational Emotive Therapy

1.    Tokoh Rational Emotive Therapy

        Diperkenalkan pada tahun 1955 oleh Albert Ellis yang lahir pada tanggal 27 september 1913 di Pittsburgh. Para ahli psikologis klinis sering mengkhususkan diri dalam bidang konseling perkawinan dan keluarga. Pada mulanya Ellis mendapat pendidikan dalam psikoanalisa yang dianggap ortodoks. Oleh karena itu berdasarkan pengalaman dan pengetahuannya dalam teori belajar behavioral, kemudian ia mengembangkan suatu pendekatan sendiri yang disebut rational emotive therapy (R.E.T)

2.     Konsep Utama Rational Emotive Therapy

       Unsur pokok terapi rational emotif adalah asumsi bahwa berpikir dan emosi bukan dua proses yang terpisah. Menurut Ellis, pikiran dan emosi merupakan dua hal yang saling bertumpang tidih, dan dalam prakteknya kedua hal itu saling terkait. Emosi disebabkan dan dikendalikan oleh pikiran. Emosi adalah pikiran yang dialihkan dan diprasangkakan sebagai suatu proses sikap dan kognitif yang intrinsik. Pikiran-pikiran seseorang dapat menjadi emosi seseorang dan merasakan sesuatu dalam situasi tertentu dapat menjadi pemikiran seseorang. Atau dengan kata lain, pikiran mempengaruhi emosi dan sebaliknya emosi mempengaruhi pikiran. Pikiran seseorang dapat menjadi emosi, dan emosi dalam keadaan tertentu dapat berubah menjadi pikiran.

        Pandangan yang penting dari teori rational emotif adalah konsep bahwa banyak perilaku emosional individu yang berpangkal pada “selftalk” atau internalisasi kalimat-kalimat, yaitu orang yang mengatakan kepada dirinya sendiri tentang pikiran dan emosi yang bersifat negatif. Neurosis adalah pikiran dan tingkah laku irasional. Gangguan-gangguan emosional berakar pada masa kanak-kanak, tetapi dikekalkan melalui reindoktrinasi sekarang. Sistem keyakinan adalah penyebab masalah-masalah emosional. Oleh karenanya, klien ditantang untuk menguji kesasihan keyakinan-keyakinan tertentu. Metode ilmiah diterapkan pada kehidupan sehari-hari.

3.    Tugas dan Tujuan Rational Emotive Therapy

       Tugas terapis menurut Ellis ialah membantu individu yang tidak bahagia dan menghadapi hambatan, untuk menunjukan bahwa (a) kesulitan disebabkan oleh persepsi yang terganggu dan pikiran-pikiran yang tidak logis, dan (b) usaha memperbaikinya adalah harus kembali kepada sebab-sebab permulaan. Terapis yang efektif akan membantu klien untuk mengubah pikiran, perasaan dan perilaku yang logis.

    Sedangkan tujuan dari terapi rational emotif menghapus pandangan hidup klien yang mengalahkan diri dan membantu klien dalam memperoleh pandangan hidup yang lebih toleransi dan rasional. Tujuan utamanya adalah menunjukan kepada klien bahwa verbalisasi diri mereka merupakan sumber gangguan emosionalnya. Kemudian membantu klien agar memperbaiki cara berpikir, merasa, dan berperilaku, sehingga ia tidak lagi mengalami gangguan emosional di masa yang akan datang.

4.      Metode Rational Emotive Therapy

      Pendekatan ini menggunakan prosedur yang beragam seperti mengajar, membaca, “pekerjaan rumah”, dan penerapan metode ilmiah logis bagi pemecahan masalah. Teknik-teknik dirancang untuk melibatkan klien ke dalam evaluasi kritis atas filsafat hidupnya. Diagnosis yang spesifik dibuat. Terapis menafsirkan, bertanya, menggali, menantang, dan mengkonfrontasikan klien.

5.    Teori Kepribadian A-B-C-D-E

        Salah satu teori utama mengenai kepribadian yang dikemukakan oleh Albert Ellis dan para penganut rational emotive therapy adalah apa yang disebut “Teori A-B-C-D-E”. Teori ini merupakan sentral dari teori RET. Secara umum teori A-B-C-D-E dapat dijelaskan sebagai berikut:

A: (Activity, or action, or agent). Hal-hal, situasi, kegiatan atau peristiwa yang mendahului atau yang mengerakan individu (Antecedent or activating events).

Proses : External event (kejadian di luar atau sekitar individu)

B1: (Irrational beliefs, yakni keyakinan-keyakinan irasional atau tidak layak terhadap kejadian eksternal (A).

B2: (Rasional beliefs, yakni keyakinan-keyakinan yang rasional atau layak dan secara empirik mendukung kejadian eksternal (A).

Proses : self verbalizations: terjadi dalam diri individu, yakni apa secara terus menerus ia katakan berhubungan dengan A terhadap dirinya

C1: Irrasional consequences, yaitu konsekuensi-konsekuensi irasional atau tidak layak yang berasal dari (A)

C2: Rational consequences, yakini konsekuensi-konsekuensi rasional atau layak yang dianggap berasal dari (B2 = keyakinan yang rasional)

Proses : rational beliefs, yakni keyakinan-keyakinan yang rasional atau layak dans secara empirik mendukung kejadian eksternal (A)

D:  Dispute irrasional beliefs, yakni keyakinan-keyakinan irasional dalam diri individu saling bertentangan (disputing)

Proses  : validate or invalidate self-verbalization: yakni suatu proses self verbalization dalam diri individu, apakah valid atau tidak.

CE: Cognitive Effect of Disputing, yakni efek kognitif yang terjadi dari pertentangan dalam keyakinan-keyakinan irasional

BE: Behavioral effect of disputing, yakni efek dalam perilaku yang terjadi dari pertentangan dalam keyakinan-keyakinan irasional di atas.

Proses : Change self verbalization, terjadinya perubahan dalam verbalisasi daripada individu. Change behavior, yakni terjadinya perubahan perilaku dalam diri individu.

6.    Penerapan dan Sumbangan Rational Emotive Therapy

      Selanjutnya dikatakan oleh Ellis bahwa meskipun pada mulanya terapi rasional emotif dimaksdukan untuk mendorong individu yang mengalami gangguan, akan tetapi dapat pula digunakan untuk membantu orang dalam mengurangi kecemasan dalam permusuhan serta berguna untuk membantu mewujudkan diri individu. Bagi para konselor sekolah, terapi rational emotif akan sangat membantu karena pada dasarnya terapi rational emotif  lebih menggunakan model edukatif daripada model psikodinamika. Dengan demikian para konselor sekolah dapat menggunakannya bagi siswa-siwa normal di sekolah.

 7.   Kelemahan Rational Emotive Therapy

      Pendekatan ini sangat didaktik, terapis perlu mengenal dirinya  sendiri dengan baik dan hati-hati agar tidak hanya memasukan filsafat hidupnya sendiri kepada para kliennya, terapis memiliki kekuasaan yang besar yang di hasilkan oleh sikap persuasif dan direktifnya. Kerugian psikologis lebih mungkin terjadi dalam RET.

Daftar Pustaka

Corey, G. (2009). Teori dan Praktek Konseling & Psikoterapi. Bandung: PT. Refika Aditama.

Gunarsa, Singgih. D. (1996). Konseling dan Psikoterapi. Jakarta: PT. BPK Gunung Mulia.

Surya, M. (2003). Teori-teori Konseling. Bandung: C.V. Pustaka  Bani Quraisy.

 

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

Psikoterapi (Analisis Transaksional)

Ririn Yulita Prihandini (19510426/3PA01)

PSIKOTERAPI

ANALISIS TRANSAKSIONAL

 1.      Pengantar

          Analisis transaksional (AT) adalah psikoterapi transaksional yang dapat digunakan dalam terapi individual, tetapi lebih cocok untuk digunakan dalam terapi kelompok. Analisis transaksional berbeda dengan terapi lainnya karena merupakan suatu terapi kontraktual dan desisional. Analisis transaksional berfokus pada putusan-putusan awal yang dibuat oleh klien dan menekankan kemampuan klien untuk membuat putusan-putusan baru. Analisis transaksional menekankan aspek-aspek kognitif rasional-behavioral dan berorientasi kepada peningkatan kesadaran sehingga klien akan mampu membuat putusan-putusan baru dan mengubah cara hidupnya.

          Pendekatan ini dikembangkan oleh Eric Berne, berlandaskan teori kepribadian yang berkenaan dengan analisis struktural dan transaksional. Teori ini menyajikan suatu kerangka bagi analisis terhadap tiga kedudukan ego yang terpisah, yaitu: orang tua, orang dewasa dan anak. Teori Berne, menggunakan beberapa kata utama dan menyajikan suatu kerangka yang bisa dimengerti dan dipelajari dengan mudah. Kata-kata utamanya adalah orang tua, orang dewasa, anak, putusan, putusan ulang, permainan, skenario, pemerasan, dicampuri, pengabdian dan ciri khas.

2.      Pandangan Utama Terapi Transaksional

       Analisis transaksional berakar pada suatu filsafat yang antidetermenistik serta menekankan bahwa manusia sanggup melampaui pengkondisian dan pemerograman awal. Disamping itu, analisis transaksional berpijak pada asumsi-asumsi bahwa orang-orang sanggup memahami putusan-putusan masa lampaunya serta orang-orang mampu memilih untuk memutuskan ulang. Analsisis transaksional meletakan kepercayaan pada kesanggupan individu untuk tampil diluar pola-pola kebiasaan dan menyeleksi tujuan-tujuan dan tingkah laku baru. Meskipun percaya bahwa manusia memiliki kesanggupan untuk memilih, Berne merasa bahwa hanya sedikit orang yang sampai pada kesadaran akan perlunya menjadi otonom. “manusia dilahirkan bebas tetapi satu hal paling pertama yang dipelajari adalah berbuat sebagaimana diperintahkan dan dia menghabiskan sisia hidupnya dengan bebrbuat seperti itu. Jadi, penghambaan diri yang pertama dijalani adalah penghambaan pada orang tua. Dia menuruti perintah-perintah orang tua untuk selamanya, hanya dalam beberapa keadaan saja memperoleh hak untuk memilih cara-cara sendiri dan menghibur diri dengan suatu ilusi tentang otonomi.

3.      Tujuan-tujuan Terapi Transaksional

         Tujuan dasar analisis transaksional adalah membantu klien dalam membuat putusan-putusan baru yang menyangkut tingkah lakunya sekarang dan arah hidupnya. Sasarannya adalah mendorong klien agar menyadari bahwa kebebasan dirinya dalam memilih telah dibatasi oleh putusan-putusan dini mengenai posisi hidupnya dan oleh pilihan terhadap cara-cara hidup yang mandul dan deterministik. Inti terapi ini adalah menggantikan gaya hidup yang ditandai oleh permainan yang manipulatif dan oleh skenario-skenario hidup yang mengalahkan diri, dengan gaya hidup otonom yang ditandai oleh spontanitas, dan keakraban.

4.      Fungsi dan Peran Terapis

         Terapis membantu klien dalam menemukan kondisi-kondisi masa lampau yang merugikan yang menyebabkan klien membuat putusan-putusan dini tertentu, memungut rencana-rencana hidup, dan mengembangkan strategi-strategi yang telah digunakannya dalam menghadapi orang lain yang sekarang barangkali ingin dipertimbangkannya. Terapis membantu klien memperoleh kesadaran yang lebih realitas dan mencari alternatif-alternatif guna menjalani kehidupan yang lebih otonom.

          Tugas terapis adalah menggunakan pengetahuannya untuk menunjang klien dalam hubungannya dengan suatu kontrak spesifik yang jelas yang diprakarsai oelh klien. Serta membantu agar klien memperoleh perangkat yang diperlukan bagi perubahan. Terapis mendorong dan mengajari klien agar lebih mempercayai ego orang dewasanya sendiri ketimbang ego orang dewasa  terapis dalam memeriksa putusan-putusan lamanya dan dalam membuat putusan-putusan baru.

5.      Metode-metode Didaktik

       Karena analisis transaksional dominan kognitif, prosedur-prosedur belia mengajar menjadi prosedur-prosedur dasar bagi analisis transaksional. Para anggota kelompok-kelompok analisis transaksional diharapkan sepenuhnya mengenal analisis struktural dengan menguasai landasan-landasan perwakilan-perwakilan ego. Yang dianjurkan kepada para anggota kelompok analisis transaksional adalah partisipasi dalam bengkel-bengkel kerja khusus, konferens-konferensi, dan pendidikan-pendidikan yang berkaitan dengan analisis transaksional.

  • Analisis Transaksional

 Analisis transaksional pada dasarnya adalah suatu penjabaran atas analisis yang dilakukan dan dikatakan oleh orang-orang terhadap satu sama lain. Ada tiga tipe transaksi, yaitu komplementer, menyilang dan terselubung. Transaksi-transaksi komplementer terjadi apabila suatu pesan yang disampaikan oleh suatu perwakilan ego seseorang memperoleh respon yang diprakirakan dari perwakilan ego seseorang yang lainnya.

  • Kursi kosong

Adalah suatu prosedur yang sesuai analisis struktural. Klien diminta untuk membayangkan bahwa seseorang tengah duduk di sebuah kursi di hadapannya dan mengajaknya berdialog. Prosedur ini memberikan kesempatan kepada klien untuk menyatakan pikiran-pikiran, perasaan-perasaan, dan sikap-sikapnya selama dia menjalankan peran-peran perwakilan-perwakilan egonya. Teknik kursi kosong bisa digunakan oleh orang-orang yang mengalami konflik-konflik internal yang hebat guna memperoleh fokus yang lebih tajam dan penggunaan kongkret bagi upaya pemecahan.

  • Permainan peran

Dalam terapi kelompok, situasi-situasi permainan peran bisa menlibatkan para anggota lain. Bentuk permainan lainnya adalah permainan yang menonjolkan gaya-gaya khas dari ego orang tua yang konstan, ego orang dewasa yang konstan dan ego anak yang konstan atau permainan-permainan tertentu agar memungkinkan klien memperoleh umpan balik tentang tingkah laku sekarang dalam kelompok.

  • Percontohan keluarga

Adalah suatu pendekatan lain untuk bekerja dengan analisis struktural, terutama berguna bagi penangan orang tua yang konstan, orang dewasa yang konstan atau anak yang konstan. Klien diminta untuk membayangkan suatu adegan yang melibatkan sebanyak mungkin orang yang berpengaruh di masa lampau, termasik dirinya sendiri

  • Analisis upacara, hiburan, dan permainan

Mencakup pengenalan terhadap upacara-upacara(ritual-ritual), hiburan-hiburan dan permainan-permainan yang digunakan dalam menyusun waktunya

  • Analisis permainan dan ketegangan

Adalah suatu aspek yang penting bagi pemahaman sifat transaksi-transaksi dengan orang lain

  • Analisis skenario

Adalah bagian dari proses terapeutik yang memungkinkan pola hidup yang diikuti oleh individu bisa dikenali. Analisis skenario membuka alternatif-alternatif bau yang menjadikan orang bisa memilih sehingga dia tidak lagi merasa dipaksa memainkan permainan-permainan mengumpulkan perasaan-perasaan untuk membenarkan tindakan tertentu yang dilaksanakan menurut plot skenario.

 6.      Penerapan dan sumbangannya

          Teknik-teknik pendekatan ini bisa diterapkan pada hubungan orang tua anak, belajar di kelas, pada konseling dan terapi individual serta kelompok, dan pada konseling perkawinan. Sumbangan utamanya adalah perhatiannya pada transaksi-transaksi berkenaan dengan fungsi perwakilan-perwakilan ego.

 7.      Kelemahan Terapi

          Tidak ditemukan suatu penekanan yang kuat pada keotentikan terapis atau pada hubungan pribadi-ke-pribadi dengan klien

DAFTAR PUSTAKA

Corey, G. (2009). Teori dan Praktek Konseling & Psikoterapi. Bandung: PT. Refika Aditama.

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

Psikoterapi (Person Centered Therapy)

PSIKOTERAPI

PERSON CENTERED THERAPY OR CLIENT CENTERED THERAPY

A. Gambaran Person Centered Therapy atau Client Centered Therapy

         Terapi  yang berpusat kepada pribadi sering disebut juga terapi yang berpusat pada klien, konseling teori diri (self theory) atau terapi Rogerian. Disebut sebagai terapi Rogerian karena Carl Ransom Roger merupakan pelopor sekaligus tokoh konseling. Carl R. Rogers dilahirkan pada tanggal 8 Januari 1902 di Oak Park Illionis. Berbeda dengan psikologi behaviorisme, Carl Rogers lebih menekankan pentingnya relasi antarpribadi dengan sikap saling menghargai dan tanpa prasangka (antara klien dan terapis) dalam individu mengatasi masalah-masalah kehidupannya serta dalam mempermudah perkembangan kepribadian.

        Rogers meyakini bahwa klien sebenarnya memiliki jawaban sendiri atas permasalahan dan masalah yang dihadapinya dan tugas terapis hanya membimbing klien menemukan jawaban yang benar. Konsep utama dari Roger bahwa organisme manusia pada hakekatnya mempunyai tujuan tertentu dan berkembang maju ke depan. Organisme bersifat konstruktif, realistik, progresif, dapat dipercaya dan serta kodrat alamiah memiliki potensi untuk berkembang.

        Ciri-ciri person centered therapy atau client centered therapy Carl Rogers (dalam gunarsa,1996) dalam bukunya “Counseling and Psychotherapy” menjelaskan mengenai ciri-ciri dari client centered therapy sebagai berikut:

1. Perhatian diarahkan kepada pribadi klien dan bukan kepada masalahnya. Tujuannya bukan memecahkan suatu masalah tertentu tetapi membantu seseorang untuk tumbuh sehingga ia bisa mengatasi masalah baik masalah sekarng maupun masalah yang akan datang dengan cara yang lebih baik dan lebih tepat.

2. Hal yang kedua ialah penekanan lebih banyak terhadap faktor emosi daripada terhadap faktor intelektual. Dalam kenyataannya, banyak perbuatan yang dipengaruhi oleh emosi daripada oleh pikiran artinya seseorang bisa mengerathui bahwa suatu perbuatan sebenarnya tidak baikjadi secara rasional, intelektual, ia mengetahui itu dan tahu pula bahwa ia tidak boleh melakukan itu namun kenyataannya lain.

3. Hal yang ketiga memberikan tekanan yang lebih besar terhadap keadaan yang ada sekarang daripada terhadap apa yang sudah lewat atau terjadi.

4. Hal yang keempat ialah penekanan hubungan terapuetik itu sendiri sebagai tumbuhnya pengalaman. Di sini seseorang belajar memahami diri sendiri, membuat keputusan yang penting dengan bebas dan bisa sukses berhubungan dengan orang lain secara dewasa.

5. Proses terapi merupakan penyelarasian antara gambaran diri klien dengan keadaan dan pengalaman diri yang sesungguhnya

6. Klien memegang peranan aktif dalam konseling sedangkan konselor bersifat pasif-reflektif

B. Proses Konseling dan terapi

        Konseling yang berpusat pada klien memusatkan pada pengalaman individu. Dalam proses disorganisasi dan reorganisasi diri, konseling berupaya untuk meminimalkan rasa diri terancam dan memaksimalkan serta menopang eksplorasi diri. Wawancara merupakan alat utama dalam konseling untuk menumbuhkan hubungan timbal balik.  Tujuan konseling yang berpusat pada klien ini adalah menciptakan suasana yang kondusif bagi klien untuk eksplorasi diri sehingga dapat mengenal hambatan pertumbuhannya dan dapat mengalami aspek dari sebelumnya terganggu. Selain itu membantu klien agar dapat bergerak ke arah keterbukaan, kepercayaan yang lebih besar kepada dirinya, keinginan untuk menjadi pribadi dan meningkatkan spontanitas hidup. Klien dikatakan sudah sembuh apabila:

1.Kepribadiannya terintegrasi, dan mampu menyelesaikan masalahnya yang dihadapinya atas tanggung jawab diri, memiliki gambaran diri yang serasi dengan pengalaman sendiri

2. Mempunyai gambaran diri dalama rti memandang fakta yang lama dengan pandangan baru

3. Mengenal dan menerima diri sendiri sebagaimana adanya dengan   segala kekurangan dan kelebihan

4. Dapat memilih dan menenukan tujuan hidup atas tanggung jawab sendiri

        Konselor yang efektif dalam konseling yang berpusat pada klien adalah seseorang yang dapat mengembangkan sikap dalam organisasi pribadinya dan dapat menerapkan secara konsisten  dengan teknik konseling yang digunakan. Karakteristik konselor yang efektif adalah:

1.  Berupaya untuk memahami apa yang dikatakan klien dalam kaitannya dengan isi dan perasaan dan kemudian mengkomunikasikanpemahaman ini pada klien

2.   Menafsirkan apa yang telah dikatakan klien dengan menawarkan sintesis perasaan yang telah dikemukakan

3.  Menerima apa yang telah dikatakan klien dengan dengan implikasi bahwa apa yang telah dikatakan itu telah dipahami

4. Setelah isu (masalah) jelas, dapat menetapkan hubungan terapeutik, situasi yang diharapkan, dan batas hubungan konselor klien

5.  Berusaha berhubungan klien dengan gesture (isyarat badan), penampilan, ekspresi muka, kata-kata, sehingga klien merasa diterima dan percaya dalam mencapai kecakapan memecahkan masalah

6.  Menjawab pertanyaan dan memberi informasi

7.   Secara aktif berpartisipasi dalam situasi terapi

        Pada garis besarnya langkah-langkah proses terapi dalam konseling yang berpusat pada klien adalah sebagai berikut:

1. Individu atas kemauan sendiri datang kepada konselor atau terapis untuk meminta bantuan

2.  Situasi terapeutik ditetapkan atau dimulai sejak situasi permulaan telah didasarkan bahwa bertanggung jawab dalam hal-hal ini adalah klien

3. Konselor mendorong atau memberanikan klien agar ia mampu mengemukakan atau mengungkapkan perasaannya secara bebas berkenaan dengan masalah yang dihadapinya

4.  Konselor menerima, mengenal dan memahami perasaan-perasaan negatif yang diungkap klien kemudian meresponnya. Respon konselor harus menujukan atau mengarahkan kepada apa yang ada dibalik ungkapan-ungkapan perasaan itu sehingga menimbulkan suasana klien dapat memahami dan menerima keadaan negatif atau tidak menyenangkan itu tidak diproyeksikan pada orang kain atau disembunyikan sehingga menajdi mekanisme pertahanan diri

5. Ungkapan-ungkapan perasaan negatif yang meluap-luapkan dari klien itu biasanya disertai ungkapan-ungkapan perasaan positif yang lemah atau samar-samar yang dapat disembuhkan

6. Konselor menerima dan memahami perasaan-perasaan posiitf ysng diugkapkan klien sebagai mana adanya

7. Klien memahami dan menerima dirinya sendiri sebagaimana adanya

8.  Apabila klien telah memahami dan menerima dirinya, maka tahap berikutnya adalah memilih dan menentukan pilihan sikap dan tindakan mana yang akan diambiil. Dalam hal ini konsleor membantu memberikan penjelasan-penjelasan yang berhubungan dengan keputusan pilihan yang diambil klien.

9. Klien mencoba memanifestasikan atau mengaktualisasikan pilihanya itu dalam sikap dan perilakunya

10. Langkah selanjutnya adalah perkembangan sikap dan dan tingkah lakunya itu adalah sejalan dengan perkembangan pemahaman dengan dirinya

11.  Perilaku klien makin bertambah terintegrasi dan pilihan-pilihan yang dilakukan makin baik

12.  Klien merasakan kebutuhan akan pertolongan mulai berkurang dan akhirnya ia berkesimpulan bahwa terapi harus diakhiri.

   Agar terapi berhasil, Rogers mengemukakan persyaratan-persyaratan hubungan antara klien dengan konselor sebagai berikut:

a. Secara negatif, jangan merupakan:

1. Hubungan yang didasarkan atas rasa kasih sayang yang mendalam seperti hubungan anak dengan orang tua.

2. Hubungan sesama kawan yang sama tingkatannya

3. Hubungan guru dengan murid, yang satu berkedudukan superior dan yang satu lagi interior

4. Hubungan dokter dengan pasien, pihak yang satu bersetatus sebagai ahli yang mempunyai otoritas, sedang pihak yang lainnyan harus menerima dan menuruti apa yang dinasehatkan atau dianjurkan

5.  Hubungan teman sekerja,teman sejawat

6. Hubungan antara pimpinan dengan bawahan, majikan dengan buruh

b.  Secara positif,dirumuskan sebagai berikut:

1.Menciptakan rapport, sehingga terbentuk keakraban,kehangatan,dan responsivenessdan secara berangsur berkembang menjadi pertalian emosional yang mendalam

2.Bersifat permissif berkenaan dengan expressi perasaan,sehingga klien mampu mengekspersikan segala dorongan dan keluhannya jangan terbawa sikap agresif,rasa berdosa ataupun malu pertalian tersebut

3.Sementara terdapat kebebasan penuh pada klien untuk menyatakan segala perasaannya,ada keterbatasan waktu dalam konseling

4.Pertalian konseling hendaknya bebas dari tekanan atau paksaan

       Pendekatan yang berpusat pada klien menggunakan sedikit teknik, akan tetapi menekankan sikap konselor. Teknik dasar adalah mencakup mendengar dan menyimak secara aktif, refleksi, klarifikasi, “being here” bagi klien. Konseling berpusat pada klien tidak menggunakan tes diagnostik, interpertasi, studi kasus dan kuesioner untuk memperoleh informasi. Teknik-teknik itu dilaksanakan dengan jalan wawancara, terapi permainan, dan terapi kelompok, baik langsung atau tidak langsung. Keberhasilan terapi tergantung kepada faktor-faktor tingkat gangguan psikis, struktur biologis klien, lingkungan hidup klien dan ikatan emosional.

3.  Sumbangan dan Keterbatasan Person Centered therapy atau Client Centered Therapy

        Pendekatan client centered merupakan corak dominan yang digunakan dalam pendidikan konselor. Salah satu alasannya adalah terapi client centered memiliki sifat keamanan. Terapi client centered menitikberatkan mendengar aktif, memberikan respek pada klien, memperhitungkan kerangka acuan internal klien dan menjalin kebersamaan dengan klien yang merupakan kebalikan dari menghadapi klien dengan penafsiran-penafsiran. Jadi, terapi client centered jauh lebih aman dibandingkan dengan model-model terapi lain yang menempatkan terapis pada posisi direktif, membuat penafsiran-penafsiran, menbuat diagnosis, menggali ketaksadaran, menganalisis mimpi-mimpi, dan bekerja ke arah pengubahan kepribadian secara radikal.

       Sumbangan utama lainnya pada lapangan psikoterapi berasal dari fakta bahwa Rogers bersedia mendudukkan rumusan-rumusannya sebagai hipotesis-hipotesis yang dapat diuji dan mempersembahkan hipotesis-hipotesisnya itu kepada upaya-upaya penelitian. Kritik-kritik Rogers menghasilkan kepercayaan untuk menuntun dan mengilhami orang lain untuk melaksanakan penelitian yang luas tentang prosoes konseling dan hasil dari aliran psikoterapi tertentu.

        Kelemahan pendekatan client centered terletak pada cara sejumlah praktisi menyalahtafsirkan atau menyederhanakan sikap-sikap sentral dari posisi client centered. Kekurangan lainnya dari pendekatan client centered adalah adanya jalan yang menyebabkan sejumlah praktisi menjadi terlalu terpusat pada klien sehingga mereka sendiri kehilangan rasa sebagai pribadi yang unik.

DAFTAR PUSTAKA

Corey, G. (2009). Teori dan Praktek Konseling & Psikoterapi.  Bandung: PT. Refika Aditama.

Gunarsa, Singgih. D. (1996). Konseling dan Psikoterapi. Jakarta: PT. BPK Gunung Mulia.

Surya, M. (2003). Teori-teori Konseling. Bandung: C.V. Pustaka Bani Quraisy.

 

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

Psikoterapi (Terapi Humanistik Eksistensial)

Ririn Yulita Prihandini (3PA01) 19510426

PSIKOTERAPI

(TERAPI HUMANISITIK EKSISTENSIAL)

       Banyak ahli psikologi yang berorientasi eksistensial yang mengajukan argumen menentang pembatasan studi tingkah laku manusia pada metode-metode yang digunakan oleh ilmu pengetahuan alam. Sebagai contoh, Bugental (1965), Rogers (1961), May (1953, 1958, 1967, 1969), Frankl (1959, 1963), Jourard (1968, 1971), Maslow (1968, 1970), dan Arbuckle (1975) yang mengemukakan kebutuhan psikologis akan suatu perspektif yang lebih luas yang mencakup pengalaman subjektif klien atas dunia pribadinya.

       Tujuan dasar banyak pendekatan psikoterapi adalah membatu individu agar mampu bertidak, menerima kebebasan dan bertanggung jawab untuk tindakan-tindakannya. Terapi eksistensial, terutama berpijak pada premis bahwa manusia tidak bisa melarikan diri dari kebebasan dan tangung jawab itu saling berkaitan.

       Konsep utama psikologi eksistensial humanistik mengenai pandangan tentang mausia adalah psikologi eksistensial humanistik berfokus pada kondisi manusia. Pendekatan ini terutama adalah suatu sikap yang menekankan pada pemahaman atas manusia alih-alih suatu sistem teknik-teknik yang digunakan untuk mempengaruhi klien.  Konsep-konsep utama dari pendekatan eksisitensial yang membentuk landasan bagi praktek terapeutik yaitu:

1.  Kesadaran Diri

     Manusia memiliki kesanggupan untuk menyadari dirinya sendiri,   suatu kesanggupan yang uni dan nyata yang memungkinkan manusia mampu berpikir dan memututuskan. Semakinkuat kesadaran diri itu pada seseorang maka akan semakin besar pula kebebasan yang ada pada orang itu.

2.  Kebebasan, Tanggung Jawab, Kecemasan

  kecemasan eksistensial diakibatkan oleh kesadaran atas keterbatasannya dan atas kemungkinan yang tak terhindarkan untuk mati. Kesadaran atas kematian memiliki arti penting bagi kehidupan individu sekarang, sebab kesadaran tersebut menghadapkan individu pada kenyataan bahwa dia memiliki waktu yang terbatas untuk mengaktualkan potensi-potensinya.

3. Penciptaan makna

  Pada dasarnya manusia itu unik dalam arti bahwa manusia berusaha untuk menetukan tujuan dan menciptakan nilai-nilai yang akan memberikan makna bagi kehidupan. Kegagalan dalam menciptakan hubungan yang bermakna bisa menimbulkan kondisi-kondisi isolasi, depresonalisasi, alineasi, keterasingan dan kesepian.

     Tujuan-tujuan Terapeutik dalam terapi eksistensial bertujuan agar klien mengalami keberadaannya secara otentik dengan menjadi sadar atas keberadaan dan potensi-potensi serta sadar bahwa ia dapat membuka diri dan bertindak berdasarkan kemampuannya. Pada dasarnya, tujuan terapi eksistensial adalah meluaskan kesadaran diri klien dan karenanya meningkatkan kesanggupan pilihannya, yakni menjadi bebas dan bertanggung jawab atas arah hidupnya. Mereka harus memilih misalnya akan tetap berpegang pada kehidupan yang dikenalnya atau akan membuka diri pada kehidupan yang kurang pasti dan lebih menantang. Justru tiadanya jaminan-jaminan dalam kehidupan itulah yang menimbulkan kecemasan. Oleh karena itu terapi eksistensial juga bertujuan untuk membatu klien agar mampu menghadapi kecemasan sehubungan dengan tindakan memilih diri, dan menerima kenyataan bahwa diri lebih dari sekedar korban kekuatan-kekuatan deterministik di luar dirinya.

      Fungsi dan peran terapis,  tugas utama terapi adalah berusaha memahami klien sebagai ada dalam dunia, karena menekankan pada pengalaman klien sekarang para terapis eksistensial menunjukan keleluasaan dalam menggunakan metode-metode dan prosedur yang digunakan oleh mereka bisa bervariasi tidak hanya dari klien yang satu kepada klien yang lainnya tetapi juga dari satu ke lain fase terapis yang dijalani oleh klien yang sama. Buhler dan Allen (dalam Geraldy Corey,2009) sepakat bahwa psikoterapi difokuskan pada pendekatan terhadap hubungan manusiaalih-alih sistem teknik. Serta para ahli humanistik memiliki orientasi bersama yang mencakup hal-hal berikut:

  1. Mengakui pentingnya pendekatan dari tanggung jawab terapis
  2. Menyadari peran dari tanggung jawab terapis
  3. Mengakui sifat timbal balik dari hubungan terapeutik
  4. Berorientasi pada pertumbuhan
  5. Menekankan keharusan terapi terlibat dengan klien sebagi suatu pribadi yang menyeluruh
  6. Mengakui bahwa putusan-putusan dan pilihan-pilihan akan terletak ditangan kita
  7. Memandang terapis sebagai model, dalam arti bahwa terapis denga gaya hidup dan pandangan humanistiknya tentang manusia bisa secara implisit menunjukan kepada klien potensi bagi tindakan kreatif dan positif
  8. Mengakui kebebasan klien untuk mengungkapkan pandangan dan untuk mengembangkan tujuan–tujuan  dan nilainya sendiri
  9. Bekerja ke arah mengurangi kebergantungan klien serta meningkatkan kebebasan klien.

     Jika klien mengungkapkan perasaan-perasaannya kepada terapi pada pertemuan terapi, maka terapis akan bertindak sebagai berikut:

  1. Memberikan reaksi pribadi dalam kaitan dengan apa yang dikatakan oleh klien
  2. Terlibat dalam sejumlah pernyataan pribadi yang relevan dan pantas tentang pengalaman-pengalaman yang mirip dengan yang dialami oleh klien
  3. Meminta pada klien untuk mengungkapkan ketakutannya terhadap keharusan memilih dalam dunia yang tak pasti
  4. Menatang klien melihat seluruh cara dia menghindari pembuatan putusan-putusan dan memberikan penilaian terhadap penghindaran itu
  5. Mendorong klien untuk memeriksa jalan hidupnya pada periode sejak memulai terapi dengan bertanya: “jika anda bisa secara ajaib kembali pada cara anda ingat kepada diri sendiri sebelum terapi, maukah anda melakukan sekarang?”
  6. Beritahu pada klien bahwa ia sedang mempelajari apa yang dialaminya sesungguhnya adalah suatu sifat yang khas sebagai manusia:bahwa dia pada akhirnya sendirian, bahwa ia harus memutuskan untuk dirinya sendiri, bahwa ia akan mengalai kecemasan atas ketidak pastian putusan-putusan yang dibuat, dan bahwa dia akan berjuang untuk menetapkan makna kehidupannya di dunia yang sering nampak tak bermakna.

        Menurut penilaian penulis, salah satu sumbangan utama dari pendekatan eksistensial humanistik adalah penekanan pada kualitas manusia kepada manusia dari hubungan terapeutik. Aspek ini mengurangi kemungkinan dehamunisasi psikoterapi yang menganggap psikoterapi sebagai proses mekanis. Juga penulis menemukan bahwa filsafat yang melandasi terapi eksistensial humanistik sangat menarik. Penulis terutama menyukai penekanan pada kebebasan, tanggung jawab dan kesanggupan individu untuk merancang ulang kehidupannya melalui tindakan memilih dengan kesadaran. Dari titik pandang penulis, model ini menyajikan suatu landasan filosofis yang jelas untuk membangun suatu gaya yang bersifat pribadi dan unik dari praktek terapi karena menunjukan dirinya kepada perjuangan manusia kontempoter. Di lain pihak, penulis mengira bahwa teori ini memiliki beberapa kekurangan yang menonjol. Banyak konsep penting dan abstrak dari eksistensialisme yang sulit dimengerti dan bahkan lebih sulit lagi untuk diterapkan pada praktek. Konsep-konsep dan perbendaharan kata yang luas dan sulit dimengerti dengan sia-sia menyulitkan proses terapeutik. Sedikitnya teknik yang dihasilkan oleh pendekatan eksistensial humanistik menjadikan para praktisi perlu mengembangkan prosedur-prosedur penemuannya sendiri atau memungutnya dari aliran-aliran terapi lain.

       Akhirnya, meskipun penulis menganggap pendekatan eksistensial humanistik memiliki banyak hal yang bisa diberikan kepada klien yang fungsi psikologis dan sosialnya relatif tinggi, penulis memandang pendekatan eksistensial-humanistik ini amat terbatas penerapannya pada para klien yang fungsinya rendah, pada para klien yang dalam keadaan krisis dan pada para klien yang miskin. Pendek kata, para klien yang berjuang untuk memenuih kebutuhan-kebutuhan pokok untuk memelihara kelangsunagn hidupnya dan tidak berminat pada aktulaisasi diri atau makna-makna eksistensial, kurang tepat untuk ditangani melalui terapi eksistensial-humanistik.

Daftar Pustaka

Corey, G. (2009). Teori dan Praktek Konseling & Psikoterapi.             Bandung: PT. Refika Aditama.

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

PSIKOTERAPI (TERAPI PSIKOANALISA)

 

Ririn Yulita Prihandini (3PA01)

 

PSIKOTERAPI

TERAPI PSIKOANALISA

1. Gambaran Psikoanalisa

Psikoanalisa merupakan suatu sistem dalam psikologi yang berasal dari penemuan-penemuan Freud dan menjadi dasar dalam teori psikologi yang berhubungan dengan gangguan kepribadian dan perilaku neurotik. Psikoanalisa memandang kejiwaan manusia sebagai ekspresi dari adanya dorongan yang menimbulkan konflik. Tokoh utama dan pendiri psikoanalisa adalah Sigmund Freud. Sigmund Freud dilahirkan pada tanggal 6 Mei 1856 di Freiberg, Moravia dan meninggal pada tanggal 23 september 1939 di London. Sebagai orang pertama yang mengemukakan konsep ketidaksadaran dalam kepribadian. Konsep-konsep psikoanalisa banyak memberikan pengaruh terhadap perkembangan konseling dan terapi.

Psikoanalisa sebagai teori dari psikoterapi berasal dari uraian Freud bahwa gejala neurotik pada seseorang timbul karena tertahannya ketegangan emosi yang ada, ketetgangan yang ada kaitannya dengan ingatan yang ditekan, ingatan mengenai hal-hal yang traumatik dari pengalaman seksual pada masa kecil.

Pada umumnya Freud mengembangkan teorinya tentang struktur kepribadian dan sebab-sebab gangguan jiwa. Konsep Freud yang anti rasionalisme menekankan motivasi tidak sadar, konflik dan simbolisme sebagai konsep primer. Manusia pada hakekatnya bersifat biologis, dilahirkan dengan dorongan-dorongan instingtif dan perlakuan merupakan fungsimereka secara mendalam terhadap doronagn-dorongan itu. Manusia bersifat tidak rasional, tidak sosial dan destruktif terhadap dirinya dan orang lain. Energi psikis yang paling besar disebut libido yang bersumber dari dorongan seksual yang terarah pada pencapaian kesenangan. Selanjutnya Freud menyebutkan dua macam libido yaitu eros  sebagai dorongan untuk hidup dan thanatos sebagai dorongan untuk mati. Menurut Freud,  strukrut kepribadian terdiri tiga sistem yaitu id adalah aspek biologis yang merupakan sistem kepribadian yang asli. ego adalah aspek psikologis yang timbul karena kebutuhan organisme untuk berhubungan dengan dunia kenyataan. Superego adalah aspek sosiologis yang mencerminkan nilai-nilai tradisional serta cita-cita masyarakat yang ada di dalam kepribadian individu.

Dinamika kepribadian menurut Freud bahwa menganggap organisme manusia sebagai suatu sistem energi yang kompleks. Kepribadian individu menurut Freud telah mulai terbentuk pada tahun-tahun pertama di masa kanak-kanak. Pada umur 5 tahun hampir seluruh struktur kepribadian telah terbentuk, pada tahun-tahun berikutnya hanya menghaluskan struktur dasar tersebut.

 2.      Proses Konseling

Tujuan konseling psikonalisa adalah untuk membantu kembali struktur karakter individu dengan membuat yang tidak sadar menjadi sadar pada diri klien. Proses konseling dipusatkan pada usaha menghayati kembali pengalaman-pengalaman masa kanak-kanak, pengalaman masa lampau ditata, didiskusikan, dianalisa dan ditafsirkan dengan tujuan untuk merekontrusikan kepribadian. Konseling analitik menekankan dimensi afektif dalam membuat pemahaman ketidaksadaran. Pemahaman intelektual sangat penting tetapi yang lebih penting adalah mengasosiasikan antara perasaan dan ingatan dengan pemahaman diri.

Satu karakteristik konseling psikoanalisa adalah bahwa terapi atau analisis bersikap anonim (tidak dikenal) dan bertindak dengan sangat sedikit menunjukan perasaan dan pengalamannya, sehingga dengan demikian klien akan memantulkan perasaan pada konselor. Proyeksi klien merupakan bahan terapi yang ditafsirkan dan dianalisa.

Konselor terutama berkenaan dengan membantu klien dalam mencapai kesadaran diri, ketulusan hati dan hubungan pribadi yang lebih efektifdalam menghadapi kecemasan melalui cara-cara realitas. Pertama-tama konselor harus membuat suatu hubungan kerjasama dengan klien dan kemudian melakukan rangkaian kegiatan mendengarkan dan menafsirkan. Konselor memberikan perhatian kepada resistensi atau penolakan klien. Sementara klien berbicara, konselor mendengarkan dan memberikan penafsiran yang memadai. Fungsinya adalah mempercepat proses penyadaran hal-hal yang tersimpan dalam ketidaksadaran.

Salah satu fungsi sentaral konselor adalah mengajarkan klien mengenai makna proses ini sehingga klien dapat memperoleh gambaran terhadap masalahny, peningkatan kesadarannya terhadap cara-cara mengubah dan mendapatkan kontrol yang lebih rasioanal terhadap hidupnya. Klien harus ada kemauan untuk menyanggupi dirinya sendiri untuk melakukan proses terapi dalam jangka panjang. Setelah beberapa pertemuan tatap muka dengan konselor, klien kemudian melakukan kegiatan asosiasi bebas yakni klien mengatakan apa saja yang terlintas dalam pikirannya.

Selama terapi, klien maju melalui tahapan-tahapan tertentu yaitu: pengembangan suatu hunbungan dengan analisis, mengalami krisis penyembuhan, mendapatkan gambaran terhadap pengalaman masa lampau yang tidak disadari, pengembangan resistensi untuk lebih memahami diri sendiri, pengembangan hunbungan transparansi dengan konselor, bekerja dengan hal-hal yang resistensi dan tertutup dan mengakhiri terapi.

3.      Macam-macam Terapi psikoanalisa

Ada 5 macam terapi dalam psikoanalisa yaitu: (1) Analisis mimpi, (2) interpretasi, (3) analisis mimpi, (4) analisis resistensi dan (5) analisis transferensi(pemindahan).

  1. Asosiasi Bebas

Teknik pokok dalam terapi psikoanalisa adalah asosiasi bebas. Terapis memerintahkan klien untuk menjernihkan pikirannya dari pemikiran sehari-hari dan sebanyak mungkin untuk mengatakan apa yang muncul dalam kesadarannya. Yang pokok, adalah klien mengemukakan segala sesuatu melalui perasaan atau pikiran dengan melaporkan secepatnya tanpa sensor.

Asosiasi bebas adalah salah satu metode pengungkapan pengalaman masa lampau dan penghentian emosi-emosi yang berkaitan dengan situasi traumatik di masa lalu. Hal ini dikenal sebagai katarisis. Katarisis secara sementara dapat mengurangi pengalaman klien yang menyakitkan akan tetapi tidak memegang peranan utama dalam proses penyembuhan. Sebagai suatu cara membantu klien memperoleh pengetahuan dan evaluasi diri sendiri, terapis menafsirkan makna-makna yang menjadi kunci dari asosiasi bebas. Selama asosiasi bebas tugas terapis adalah untuk menidentifikasi hal-hal yang tertekan dan terkunci dan terkunci dalam ketidaksadaran.

Cara terapinya yaitu teknik dasar untuk melakukan psikoanalisa ini adalah dengan meminta klien berbaring di dipan khusus (couch) dan terapis duduk dibelakangnya jadi posisi klien menghadap ke arah lain, tidak bertatapan dengan terapis. Klien diminta mengemukakan apa yang muncul dalam pikirannya dengan bebas, tanpa merasa terhambat, tertahan dan tanpa harus memilih mana yang dianggap penting atau tidak penting. Terapis yang duduk di belakang dipan khusus pada dasarnya mendengarkan tanpa menilai atau memberi kritik dan memperlihatkan sikap ingin mengetahui lebih banyak tentang klien. Namun pada saat-saat tertentu, terapis memotong asosiasi bebas yang sedang dikemukakan oleh klien bilamana dianggap penting untuk memperjelas hubungan-hubungan antara asosiasi-asosiasi satu sama lain misalnya ada kaitanya dengan mimpi-mimpi yang dialam.

2. Interpretasi

 Interpretasi adalah prosedur dasar yang digunakan dalam anaisis   asosiasi bebas, analisis mimpi, analisis resistensi dan analisis transparansi. Prosedurnya terdiri atas penetapan analisis, penjelasan, danbahkan mengajar klien tentang makna perilaku yang dimanifestasikan dalam mimpi, asosiasi bebas, resistensi dan hubungan teraupetik itu sendiri. Fungsi interperasi adalah membiarkan ego untuk mencerna materi baru dan mempercepat proses menyadarkan hala-hal yang tersembunyi. Ada tiga hal yang harus di perhatikan dalam interpretasi sebagai teknik terapi. Pertama, interpretasi hendaknya disajikan pada saat gelaja yang diinterpretasikan berhubungan erat dengan hal-hal yang disadari klien. Kedua, interpretasi hendaknya selalu dimulai daripermukaan dan baru menuju ke hal-hal yang dalam yang dapat dialami. Oleh situasi emosional klien. Ketiga, memetapkan resistensi pertahanan sebelum menginterpretasikan emosi atau konflik.

3. Analisis Mimpi

Analisis mimpi merupakan prosedur yang penting untuk membuka hal-hal yang tidak disadari dan membatu klien untuk memperoleh penjelasan kepada masalah-masalah yang belum terpecahkan. Selama tidur pertahanan menjadi lemah dan perasaan-perasaan yang tertekan menjadi muncul ke permukaan. Freud melihat bahwa mimpi sebagai “royal to the uncouncious”, dimana dalam mimpi semua keinginan, kekbutuhan,dan ketakutan yang tidak disadari diekspresikan. Beberapa motivasi yang tidak diterima oleh orang lain dinyatakan dalam simbolik dari pada secara terbuka dan langsung.

4. Analisis dan Interpretasi Resistensi

Resistensi sebagai suatu konsep fundamental praktek-praktek psikoanalisa yang bekerja melawan kemajuan terapi dan mencegah klien untuk menampilkan hal-hal yang tidak disadari. Frued memandang resistensi sebagai suatu dinamika yang tidak disadari yang mendorong seseorang untuk mempertahankan terhadap kecemasan.resistensi bukan sesuatu yang harus diatasi karena hal itu merupakan gambaran pendekatan pertahanan klien dalam kehidupan sehari-hari. Resistensi harus diakui sebagai alat pertahanan menghadapi kecemasan.

5. Analisis dan Interpretasi dan Transperensi

Seperti halnya resistensi, transperensi (pemindahan) terletak dalam arti terapi psikoanalisa dalam proses terapeutik pada saat dimana kegiatan-kegiatan klien masa lalu yang tak terselesaikan dengan orang lain, menyebabkan dia mengubah masa kini dan mereaksi kepada analisis sebagai yang dilakukan kepada ibunya atau ayahnya. Kini, dalam hubungan dengan konselor klien mengalami kembali perasaan penolakan permusushan yang pernah dialamiterhadap orang tuanya.

 4.      Kritik dan Kontribusi  

Beberapa kritik terhadap psikoanlisa adalah:

  1. Pandangan yang terlalu deterministik dinilai terlalu merendah martabat manusia
  2. Terlalu banyak menekankan kepada pengalaman masa kanak-kanak dan menganggap kehidupan seolah-olah sepenuhnya ditentukan masa lalu.
  3. Terlalu meminimalkan raionalitas
  4. Bahwa perilaku ditentukan oleh energi psiksis adalah sesuatu yang meragukan
  5. Penyembuhan dalam psikoanalisa terlalu bersifat rasional dalam pendekatannya
  6. Data penelitian empiris kurang banyak mendukung sistem psikoanalisa

Sedangkan kontribusi yang diberikan antara lain:

  1. Adanya motivasi yag tidak selamanya disadari
  2. Teori kepribadian dan teknik psikoterapi
  3. Pentingnya masa kanak-kanak dalam perkembangan kepribadian
  4. Model penggunaan wawancara sebagai alat terapi
  5. Adanya persesuaian antara teori dan teknik

Daftar Pustaka

Gunarsa, Singgih. D. (1996). Konseling dan Psikoterapi. Jakarta: PT.  BPK Gunung Mulia.

Surya, M. (2003). Teori-teori Konseling. Bandung: C.V. Pustaka  Bani Quraisy.

 

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar